Sebenarnya, ini bukan cerita tentang engrang melainkan kisah bapak-bapak. Cerita pertempuran antar bapak-bapak. Namun tenang saja, ini bukan adu jotos, dukun sakti atau tawuran bawa kampak. Ini cerita tentang bapak bapak vs bapak bapak. Bahkan bapak-bapak yang saling bertempurpun tidak tahu satu sama lain. Karena ini adalah pertempuran bapakku dengan bapak orang lain. Pertempuran yang terjadi dalam pikiran dan pengalamanku. Tanpa luka, tanpa dosa, setitikpun.
Belakangan ini, aku sering cemburu gara-gara media sosial milik para teman. Bagaimana tidak, mereka umbar kemesraan, hubungan baik, kenyamanan dan kesempurnaan antara anak dan bapak. Bukan perkawinan segaris atau pedofilian. Akan tetapi kemanjaan anak dan keinginan untuk memanjakan anak.
Dari uploadan mereka, aku tau mereka dikasih apa yang diinginkan oleh bapaknya. Kemarin aku lihat ada anak dikasih kamera untuk hobi anaknya, barusan ada anak dikasih motor oleh bapaknya, dan besok hingga lusa dan seterusnya akan ada anak yang dikasih dan bapak yang mengasihi. Selain kebutuhan sehari-hari tentunya. Sekali lagi, aku iri, pada mereka. Cemburu.
Tapi, semua itu berubah semenjak itu. Itu loh, pas aku pulang kampung, liburan. Aku hendak mengikuti kejuaran lari, balap engrang. Kau cari tau sendirilah engrang itu apa. Tapi, biar aku kasih tau aja. Engrang adalah sebuah alat untuk bermain. Adapun cara bermainnya adalah kita berjalan diatas pijakan dalam engrang itu. Engrang umumnya terbuat dari bambu. Tinggi tentunya. Melebihi ketinggian si pemakai. Pokoknya itu deh.
Kebetulan dalam pulangku kali ini, aku bermaksud untuk latihan engrang. Walaupun dulu aku bisa jalan dan naik turun tangga. Tapi aku harus tetap latihan, soalnya aku takut lupa cara berjalannya. Yang pertama adalah membuat engrang. Eumh aku harus ke kebun, tapi aku takut. Aku minta anter adikku yang baru kelas VII, cewe lagi. Untuk menemani aku si penakut ini ngambil bambu dikebun belakang rumah. Kebun disini lebih kepada semi hutan. Makanya aku minta anter.
Aku dapat walaupun ternyata si bapak malah mentertawakanku. "ieu mah ngora keneh ath" yang artinya "yang ini masih muda". Bambu muda biasanya gak terlalu kokoh untuk dijadikan engrang. Simsalabim! Akhirnya bapakku yang turun tangan membuat engrang. Setelah sebelumnya aku jelasin bahwa ini untuk kejuaraan.
Setelah itu, aku setiap hari berlatih. Karena benar saja, aku lupa caranya berjalan. Jatuh, bangkit lagi. Begitulah sampai kakiku lecet. Tak apa, karena aku ingin menang. Dan ternyata aku memang menang! Walaupun juara tiga.
hhhhhhmmmm
Beruntungnya aku, punya bapak yang membuatkanku engrang. Tentu kalau masalah harga dan gensi akan kalah dengan kamera dan motor. Tapi untuk masalah memberi, aku berani diadu lah. Sementara ibuku sering membuatkanku teh manis hangat di pagi hari sebagai teman latihanku. Adekku yang ikut-ikutan mencari bambu, membuat dan kadang ingin latihan juga. Kakak-kakakku yang mulutnya selalu meledek, tapi diam-diam hati mereka mendoakan.
Ah, aku juga punya keluarga dan kisahnya sendiri. Ayo saling cemburu!