Ya begitulah hujan selalu sama dari dulu hingga sekarang. Air. Kata orang, hujan itu 1% air dan 99% kenangan, hujannya diluar pipi-pipinya yang basah. Begitulah kata pujangga, si Wira dari Banjarnagara. Kata orang lain dari negeri sebrang, hujan adalah cara Tuhan untuk memeluk diri-Nya. Tak apa, bahkan kau bebas mendefinisikan hujan. Yang penting kita sepaham bahwa air yang turun dari langit itu kita namakan hujan.
Hujan.... hujan..... aku tak mengerti mengapa banyak orang yang membencimu sedangkan yang lainnya merindukanmu. Hujan jika aku jadi kamu, mungkin aku sudah membatin tak mau hidup. Kapok. Bagaimana mungkin manusia sekejam itu. Maksudku. Jika kelebihan mereka memakimu, jika kekurangan mereka memintamu, jika pas mereka malah melupakanmu.
Tapi jangan khawatir, manusia hanya belum akrab dengan temanku. Temanku yang ketika penghujan bisa mengebumikan air langit dan jika kemarau air itu akan membasahi bumi dari dalam. Namanya si Biopori. Temanku itu memang ahli dalam menangani mu wahai hujan.
Sundari
Begitu lah cara aku berbicara dengan hujan. Hujan yang aku syukuri karena menetralkan udara, yang aku syukuri karena menyuburkan tanah, dan hujan yang menghidupi kehidupan. Aku sangat risau tak kala kemarau. Dan aku takut tak kala hujan lepas kontrol.
Sundari oh Sundari.
Keluarlah, mumpung hujan. Memang enak berselimut dan minumann hangat ditanganmu. Tapi aku ingin kau keluar. Tanpa payung, jas hujan dan pelindung lainnya. Basahi tubuhmu dengan air hujan. Biar apa? Agar ada alasan aku bertemu denganmu dalam bingkai menjenguk. Aku rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar