Bandung malam hampir sama dengan kota lainya, gelap apalagi kalau mati listrik. Bandung ibukota Priangan, dingin bikin merinding. Saat itu, dijalan Soekarno-Hatta, kendaraan tak seramai jam masuk dan pulang orang kantor dan pelajar. Tidak ramai dan tak terlalu lenggang. Ya lumayan lah, seakan jalan agak lebaran daripada pagi dan sore hari.
Aku habis kumpul dengan teman-temanku, berhubung bulan puasa kami batal bersama di salah satu tempat makan ala Sunda. Menunya tidak asing bagiku, tapi bukan, bukan karena aku sering ketempat itu. Ya karena aku cuma mahasiswa yg berasal dari salahsatu Kabupaten di Jawa Barat. Makan ala Sunda itu memang santapanku hampir setiap hari. Tapi aku setuju kalau kami berkumpul disana.
Tak mau aku batal berkumpul dengan teman gara-gara masalah tempat, sudah cukup repot kami menyesuaikan waktu yang cocok. Mungkin kalian ngerti, kata orang sih pertemanan "ada masa nya". Serius, aku tak mau setuju dengan perkataan itu.
Ah, lagi pula masakan khas Sunda mungkin agak asing bagi beberapa temanku yang bukan dari etnis Sunda. Mereka ingin mencoba, mudah-mudahan mereka suka. Aamiin. Aku juga menikmati lesehannya, bagiku, lesehan lebih nikmat untuk acara kumpul-kumpul santai.
Dijalan bypass itu, aku membonceng dia, dia yang suka bicara entah apa saja. Tak terlalu penting tapi aku suka. Atau, aku suka bukan karena topik bicara, suara dia mungkin telingaku menyukainya. Ya, ku kira itu benar, ku kira itu pantas menjadi alasan, tapi alasan pribadiku saja, tak usah orang tau. Walau sebenarnya mereka akan tahu. Sekarang tepatnya.
Dari boncengan itu, aku baru tahu. Kalau dia itu suka muter-muterin spion motor.
Suk : Heh! Mau ngapain? Ngaca?
Aku nanya karena dia mulai ngotak-ngatik spion kiriku. Tapi pas aku tanya dia gak langsung jawab.
Aku sadar, spion itu malah dia tempatkan sedemikian rupa sehingga wajah kami bisa saling terlihat.
Sun : Mau lihat kamu nyetir.
Aku kaget tapi sambil tersenyum. Maksudku dia yang senyum. Tapi, tentu aku balas.
Kamu serius yah kalau nyetir.
Suk : Iya lah. Aku serius kalau nyetir.
Sun : Kenapa?
Suk : Ya, karena aku bawa orang, anak orang. Bukan karung beras.
hahahhaa. Kami ketawa bareng. Ya walaupun tak begitu lucu.
sebenernya aku agak salting sih dilihatin gitu, bukan karena dilihatin, tapi lebih karena siapa yang sedang lihatin aku pake spion kiriku.
Sun : Tuh kan serius.
hahahaa. Selalu ada ketawa atau senyum walaupun tidak ada yang lucu.
Suk : Aku kasih tau yah. Selain nyetir, aku juga serius kalau lagi maen game.
Sun : Aku gak tau.
Suk : Barusan banget dikasih tau. Gimana sih.
Sun : Oh ia yah. hahahaa
Dia ketawa lagi. Dan aku temenin. Gak tau biar apa.
Sun : Jangan di apa-apain.
Maksud dia spionnya.
Suk : Kenapa?
Sun : Mau lihat kamu nyetir.
Aku senyum. Tak tau untuk apa, jika kalian mau bantu cari alasannya. Terima kasih banget.
"Spion kiri itu biarlah menjadi milikmu, untuk kebahagian kita, tapi spion kanan ini milikku, untuk keselamatan kita. Dari spion milikmu itu aku bisa lihat kamu memperhatikan, aku akan tau kau senyum dan meledek, kau juga akan tau apa yang wajah aku kerjakan. Dan spion kanan, ini agar aku bisa lihat barangkali ada pengendara yang membahayakan, agar kita selamat, aku tetap harus waspada."
Tapi itu semua tak aku bicarakan. Kukira dia mengerti hal itu. Karena dia Sundari. Sundari ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar