Tweets by Sukandi_Suk ">

Selasa, 12 Januari 2016

Titip Pertiwi

Kamu tau apa hal terindah dari senja? Bukan lembayung yg sering orang sebut dengan sunset (yg mereka upload berpasangan). Tapi, itulah saat terkahir aku melihat manisnya senyummu, sebelum malam menggelapkan mata. *selamat malam Sundari

Hubungan matahari dengan bumi: matahari selalu memberikan sinarnya kepada sang kekasih (bumi). Bahkan saat malam, dia menitipkan pada bulan. Romantis!

Dan matahari masih setia menunggu kekasihnya yang bermain dalam dunia gelap.

Dalam malamku, aku titipkan rindu pada gelap yang menyelimuti bumi. Jika mentai datang, rinduku tak hilang. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Jika rinduku ini sebuah malam yang gelap, kau jangan mengutuknya. Tidurlah. Lewati dengan ketenangan.

Malam yang nihil untuk semangat siang yang tenggelam bersama petang. Semoga pagi menghadirkanmu kembali.

Malam ini lebih berwarna, walau sejatinya malam itu gelap. Tentu ada alasannya.

Oh malam, kenapa kau gelap? Bukankah karenamu banyak orang yang mendapatkan pencerahan?

Gravitasi bumi membuat semua benda jatuh. Termasuk hati manusia yang jatuh cinta terhadap keindahannya. Semoga tdk terlena ke dasar kesengsaraan.

Ia, jika kau memang bintang, maka aku tak dapat memilikimu. Tapi aku masih bisa menikmatimu dari kejauhan.

Jangan pernah bermimpi menghilangkan kegelapan, karena semakin terang cahaya maka semakin pekat bayangannya.

Berhenti berfikir kemungkinan hidup di tempat lain. Jika bumi tak kau hancurkan tentu lebih indah di sini! Bumi adalah sepetak tanah surga yang sengaja Tuhan perlihatkan untuk manusia, agar mereka termotivasi kembali. Bukan terlena!

Rahasiakan rahasiaku, karena aku merahasiakan rahasiamu. Biarkan rahasia tetap jadi rahasia. Tutupilah seperti malam yang selalu berhasil menyembunyikan mentari setiap harinya.

Terlalu banyak cahaya itu tidak baik. Dapat menyilaukanmu, kemudian matamu terpejam karenanya. Akhirnya nemu yang gelap juga kan?

Sunrise dan sunset itu tak benar-benar ada. Itu hanya istilah penduduk bumi. Matahari itu pusatnya, dia tidak kemana-mana (diam). Sama sepertiku. Kau saja yang terkadang melirik dan berpaling.

Hujan. Jangan ragu-ragu untuk turun, sekarang manusia membutuhkanmu. Apa manusia kuat tanpamu?

Jika penghujan, mereka bisa mengebumikan air langit itu. Jika kemarau air itu akan membasahimu dari dalam. Oh, biopori.

Jika kelebihan, mereka memakimu. Jika kekurangan, mereka memintamu. Jika pas, mereka melupakanmu. Ah manusia. *hujan

Yang kita harapakan dari tanaman adalah asri. Bukan gersang ataupun hieum.

Air menjadi simbol ketenangan, beda lagi dengan air mata yang jadi simbol kepedihan. Tapi berbeda dengan air mata bahagia. Emang ada? Semacam ketenangan yang pedih? Atau kepediahan yang menenangkan? Kau harus tenang, walau sedang merasa kepedihan.


Aku menyukainya dengan diam-diam, seperti matahari yang mengambil air dari tiap penjuru bumi. Aku merindukannya dengan amat sangat, seperti hujan deras yang jatuh, namun tak kesakitan. Dan aku berharap dia datang seperti pelangi sesudah air membasahi pipi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...