Pulang. Yah ke kampung halaman, halaman yang paling depan dan belakang. Aku lahir dan semoga mati disana. Dikampung halaman yg sama. Bagaimana mungkin, ah mungkin saja, bagaimana pun caranya.
Yah begitulah, aku pulang karena aku merantau. Cuma beda kota sih, tapi bagi urang Sunda, segitu juga udah merantau. Jangan bandingkan dengan suku yang lain, jelas kami tak ada apa-apanya dalam hal merantau. Apalagi pelancong dari negara lain. Ah, tak tau lah mereka ingin apa? Gak tau juga kenapa urang Sunda kalau main gak jauh-jauh. Namun bagiku, buat apa aku jauh-jauh kalau alam Priangan sudah menyediakan semuanya, mencari apa aku? Makanya, kebanyakan dari kami cuma putar-puter di tanah Pasundan.
Bandung - Ciamis lumayan lah. Sekitar tiga jam, bukan tiga zaman yah. Itu kalau naik kendaraan pribadi dengan agak nyantai dan tanpa macet. Biasanya sih begitu. Kalau gak begitu berarti gak biasanya.
Aku menunggangi Bleki-bau, dia itu motorku. Gak cukup keren sih, cepat juga enggak. Yang penting nyaman buatku berkendara. Keren itu kalau dibandingkan dengan motor mahal atau hasil modifan orang lain. Gak cepat itu kalau dibandingkan dengan motor yang diatas 110cc. Kan sudah kubilang, yang penting nyaman kan.
Aku melihat ada truk - sapi - anak punk. Iyah, mereka, anak punk itu ikut naek truk yang sedang mengangkut sapi. Ntah mau kemana. Ah, ku salip saja, karena berkendara dibelakang truk itu tidak nyaman, walaupun kendaraanku nyaman. Asapnya terutama. Hitam dan bau. Tapi setelah kusalip, kupikir ada yang kurang. Ah, Rokok! Masa anak punk gak ngerokok sih? Orang mereka ngamen juga suka nerima uang batangan.
Aku berhenti karena ingin ngasih mereka rokok. Dan aku ingat, didalam tas yang ku gendong ini ada rokok yang tak jadi aku kasih ke seseorang. Satpam waktu itu. Aku keluarkan sebungkus rokok, dan menunggu sampai truk punk itu melewati blacky-bau ku. Yaps sudah lewat. Aku nyalakan motor dan berusaha mendekati.
Bagaimana caranya kasih kode yah? Klakson tentunya. "tttiiiiiiddd" ah dia tak menoleh. Mungkin mereka kurang peka. "tid tid tid tiiiiiiiiddddd" YES akhirnya salah satu menoleh. Ku lambaikan tangan dengan memegang bungkus rokok. Dia langsung peka bahwa aku akan mengasih mereka rokok. Ku dekati hingga sejajar. Dan tangan kiriku acungkan. Hap! dia meraih rokoknya. Aku lihat dia yang senang. Huft. hampir saja. Aku oleng tau.
"Nuhun kang"
itu kata dia. Se-punk-punk nya anak punk Sunda, dia akan bilang "nuhun" juga. Ya begitu lah urang Sunda. Mereka jarang merantau, dan sering dirantau. Tapi sebagai tuan rumah yang baik mereka sangat sopan. Bahkan premannya sekalipun ramah. Coba saja kau lewat sambil bilang "punten", dia akan menawarkan "mangga" kok. Trust me, it works! Mungkin kau bisa nonton preman pensiun sebagai gambarannya.
Sundari, terkadang aku ingin merokok. Bagiku rokok bukan hanya barang komersil. Sudah menjadi kebiasaan, budaya barangkali dimasyarakat kita. Dengan merokok aku ingin mempermudah pedekateku terhadap masyarakat nantinya. Tidak canggung untuk memulai, tidak pusing untuk memberi. Rokok. Kukira mereka akan dengan cepat, lebih ramah menyambutku.
Yah kemungkinan yang mendekati pasti, kau akan melarangku. Karena aku tahu, kau sudah tahu, bahwa aku punya kelemahan disaluran napasku. Terima Kasih kalau kau ingin aku sehat. Terima Kasih sekali.
Sundari, terkadang aku ingin merokok. Bagiku rokok bukan hanya barang komersil. Sudah menjadi kebiasaan, budaya barangkali dimasyarakat kita. Dengan merokok aku ingin mempermudah pedekateku terhadap masyarakat nantinya. Tidak canggung untuk memulai, tidak pusing untuk memberi. Rokok. Kukira mereka akan dengan cepat, lebih ramah menyambutku.
Yah kemungkinan yang mendekati pasti, kau akan melarangku. Karena aku tahu, kau sudah tahu, bahwa aku punya kelemahan disaluran napasku. Terima Kasih kalau kau ingin aku sehat. Terima Kasih sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar