Tweets by Sukandi_Suk ">
Minggu, 26 Juni 2016
Sudahkah mengerti?
ya inilah kami. Sundari yg begitu dan aku yg begini. Jadi, gimana? udah ada kesimpulan? jangan buru-buru semua belum berakhir. Masih banyak kemungkinan yg bisa terjadi. Dulu aku sering nyampah di line, namun sekarang aku lebih banyak di twitter. Entahlah karena apa. Mungkin gara-gara di line takut ada yg tersampahi timelinenya. Padahal di Twitter juga sama yah? Seenggaknya twitter mah udah jarang ada yg maenin, kecuali antara seleb dan fans. Aku sih pake twiiter buat catatan kami saja.
Sabtu, 25 Juni 2016
Second
Aku
terlampau gerah saat melihat kalian bermesraan. Kemudian, biarkan aku berenang,
meski aku tak bisa renang. Kemudian biarkan aku tenggelam. Agar jasadku lebih
awet ketimbang kedekatan kita yg aku kubur bersama harapan dan rindu yg membumi.
Nanti. Jika kau ingin lihat tubuhku. Menyelamlah. Selami perasaanku yg utuh
lewat tulisanku yg selalu kau abaikan. Karena. Kau akan lihat keabadian rasa.
Disana, sukmaku di dunia maya.
Kau
tau persamaan kamu dan celana dalam? Sama-sama ku sembunyikan tak ku pamerkan. Aku
gak mau ada orang yg memakiannya dan merasa nyaman.
Kau
tau eskrim? Tak berhasil mendinginkanku yg termakan cemburu. Setidaknya aku
masih ada rasa. Tak seperti kamu yg lebih dingin dari eskrim. Tatkala aku
menggubu-gebu merindukanmu.
Aku
udah mulai duluan loh, kapan kamu suka balik ke aku? Maap aku kurang peka, jadi
gak usah kode-kodean.
Aku
mengikutimu tapi kau tak mau dibuntuti. Aku memperhatikanmu tapi kau tak mau
dilihati. Aku mencintaimu, tapi kau menamparku. Salahku apa?
Gigimu
rapih walau ada 1 yg berusaha gingsul, hampir manis. Tapi hatiku berkata kau
lagi manis-manisnya.
Kengerian
yg oleh negeri ini diagung-agungkan, menjadi pintarnya seseorang, menjadi beban
bagi mereka yg tak mau peduli itu. Stoplah matematika yg berlebihan. Bukan
pengetahuan yg kami dapat. Hanya lontaran cacian dan keluhkesah yg ada.
Dosakah? Iya bagi kami. Aku akan baik-baik saja meski tak ahli matematika.
Karena hidupku bukan cuma tentang hitungan.
Persoalan
matematika pas sekolah tdk ada gunanya. Aku akan lupa itu, dan tetap baik-baik
saja. Justru dengan adanya matematika dikehidupanku, aku malah bahagia, derita
kurang satu. Karena sampai sekrang, matematika adalah kengerian.
Tak
ada yg menemukan dan ditemukan, kita dipertemukan. Ya. Semua ada perpisahan.
Kelak matilah yg menjadi alasan. Karena kita berTuhan sama, kita akan kembali
bersua. Di Surga. Dalam rahmatnya, tak ada perpisahan lagi, sebab mati dan
kiamat tak ada disana.
Aku
tidak cemburu pada Rangg-Cinta atau Dilan-Milea, termasuk saat mereka
bermesraan. Di banding itu, lebih baik pertemuan denganmu. Cepatlah.
Selamat
pagi museum KAA dan kau pergi menyisakkan luKAA
Seperti
itu, blengeplah sesukamu. Karena itu penyebab sukaku. Bodohmu saja aku sukai,
apalagi indahmu. Blengeplah se-blengep-blengepnya.
Malam
ini saja. Biarkan aku terlelap tidur seperti bayi. Yg bangun hanya ketika haus
dan lapar. Bukan rindu dan rasa yg tertampar.
Selamat
pagi matahari terbir, dan kau yg lari terbirit-birit. Kenapa? Parno apa pengen
modol?
Ejekan,
cacian, makian kalian jangan dihilangkan. Sebab aku ini banyak dosa yg repot
bila dihapus sendirian.
Kamu
mah kayak nenek-nenek pake iteuk. Susah
banget di ajak jalan.
Pada
akhirnya kita saling menuduh, kenapa kita tak pernah bersama dalam ikatan yg
utuh? Aku yg tak berani nembak atau kamu
yg tak berani menjauhinya? Kemudian kita saling bunuh! Siapa yg duluan mati?
Kekasihmu atau rinduku?
Kalau
kau ragu padaku, bagaimana aku yakin semua yg kulakukan akan membahagiakanmu.
Disana
kau berdua, disini aku sendiri. Walau pernah kita bertiga. Ke empat dan
seterusnya mencaci.
Aku
adalah rindu yg kepagian, tapi anehnya kesiangan juga, kemaleman juga. Rindunya
sepanjang hari.
Sadarlah
aku telah mencintaimu degan mendesah-desah. Mencibir setiap pria yg datang
dengan berjuta-juta rupiah. Menikmati rasa sakit karena tertusukku. Menyamarkan
suara menjerit dengan hanya mampi berkata “ah ah ah”, pelan di telingamu.
Sebimbang kamu memastikan hubungan kita, sebingung aku untuk
mengekspresikannya. Sehingga yg kau dengar hanya keluhku, “oh no, oh yes”
begitu. Telanjang, kemudian tubuhku terbalut nestapa dosa.
Tertawa
diatas penderiataan orang lain itu gak boleh. Maka tertawalah diatas
penderitaan diri sendiri. Gak penting sih. Tapi anjir! Hade!
Entah
apa yg kau pilih untuk menemani pagimu. Aku sih pengen ditemani kamu. Tapi. Tau
tidak dengan mereka? Mereka yg memilih air putih mungkin mengerti, bahwa
kemrnian adalah kejujuran yg patut disyukuri. Mereka yg memilih susu mungkin
harus kuat setelah terpukul patah hati yg hebat. Mereka yg memilih kopi mungkin
bermaksud menyamarkan rasa pahit dihati dengan mengorbankan lidah. Mereka yg
memilih alkohol mungkin ingin melayang karena beban kecewa terlampau berat
untuk ditanggungnya. Dan aku memilih teh, karena ‘mari ngeteh, mari berbicara’.
Setidaknya berbincang denganmu membuatku senang.
Mereka
hanya nyaring dikuping. Tidak membuat hari merinding.
Setiap
pagi aku selalu berlomba dengan mentari, siapa yg pertama akan menghangatkanmu.
Nyatanya kamu hanya meninggi pesan ucap pagi darinya.
Tuhan
mendengar semua doa. Tapi tidak semua dikabulkan.
Selama
calon itu mencalonkan diri. Saya berat untuk memilih.
Cuma
kangen doang kok. Biasa, udah malem. Tapi pagi pasti rindu. Kamvretnya semua
aktivitas nanyain kamu, kecuali lagi tidur.
Ayo
kita sepakat untuk tidak menyepakati kesepakatan apapun. Sepakat? TIDAK!!!
Bagus.
Makin
berisi makin merunduk. Udah susah nyari orang begitu. Wong sawahnya udah
diganti perumahan mewah.
Peluk
aku. Agar ada alasan jangtungku berdetak. Genggam aku, agar ada alasan darahku
mengalir. Tatap aku, agar ada alasan aku melihat dunia.
Iya
aku yg bodoh. Dengan menjadi penggemar rahasiamu. Menyukai diam-diam dan dengan
angkuh ingin ditemukan dalam penantian.
Selamat
pagi. Gimana? Pasti bahagia kan? Aku juga. Bukan bohong. Tapi sedang ku
usahakan.
Lagi
kangen kamu. Kamu diem aja. Aku gak bakal ganggu kok. Paling guling yg risih di
peluk aku tiap harinya.
Lucu
aja. Sekarang kita sibuk saling melupakan, padahal dulu begitu mudah untuk
saling merindukan.
Bandung
cantik tanpa kantong plastik. Kamu juga cantik tanpa kosmetik. BHSG gak seru
tanpa logistik.
Lelah
katamu? Jangan menyerah kataku. Kami tidak mengajarkan kalian mengenal
kemenangan dan derita. Yg kami mau adalah kenangan dalam cerita. #lomba.
Teman-temanmu
tertawa. Teman-temanku berbela sungkawa.
Habis
gelap terbitlah terang. Dulu kerjaan peyeump itu di dapur, sumur dan kasur.
Sekarang sih enggak. Enggak ngapa-ngapain mungkin. Semoga kantor tidak
menelantarkan rumah tangganya.
Hening-diam,
keheningan-kediaman. Ko beda? Kayak benar-bener, kebenaran-kebeneran. Gak
sengaja. Kebetulan aja lagi betul.
Aduh
manis, manis gula jawa. Datangnya menangis, pergi sambil tertawa.
Yang
cowok nyari tulang rusuknya yg hilang. Yg cewe nyari yg siap jadi tulang
punggungnya. Jodoh hanya bincang-bincang tentang tulang belulang.
Rela?
Tau apa kau tentang rela? Jika
kehancurannya adalah bukti dikabulkannya atas setiap doamu.
Kebetulan
Tuhan kita sama. Doa kita saja yg berbeda, kau dan dia berharap kalian, aku
berharap kita. Mana yg Tuhan kabulkan. Tunggu jangan ragu.
Sebenarnya,
aku tidak pernah punya waktu untukmu. Jika aku sedang bersamamu, itu artinya
ada waktu yg telah aku korbankan.
Sesederhana
aku merindukanmu, serumit itu kau mencintainya. Sesederhana aku mencintaimu,
serumit itu kau ingin bahagia dengannya.
Ragaku
lelah, tapi hati berkata jangan menyerah. Berbaring di kasur, Cuma dia yg tau
hatiku hancur.
Berapa
kg gula kau tambah, tak sebanding dengan berat rinduku. Semanis apapun gula,
kopi akan tetap pahit hingga tercelup senyummu.
Setidaknya
kopi kita pernah semeja, mengeja setiap pahit. Hingga lupa bahwa kisah kita
pernah indah. Setidaknya, kopi kita pernah bersanding walau kaki kita tidak
lagi beriring.
Bukankah
hidup adalah ujian? Jangan bilang mau fokus ujian. Kenapa tidak sertakan aku
bersama ujianmu itu?
Kau
yg tersayang, terbayang, menghilang.
Keheningan
diantara kita adalah gerbang perpisahan. Diamnya diantara kita adalah ucapan
selamat datang pada kepedihan.
Cuma
hati sendiri dan Tuhan yg tak bisa dibohongi. Aku tak peduli, aku rindu, dan
aku padamu sampai kehendak-Nya bilang ‘sudah cukup’.
Jika
aku dianjingi, maka ‘guk guk guk’ artinya ‘selamat pagi’. Dari anjingmu yg tak
kau biarkan bebas, tapi tak kau beri makan juga.
Sudah
terbiasa bukan? Kalau sakit datang udah tau obatnya kan? Tak perlu lebay minta
di rawat dengan biaya mahal. Karena tuhan selalu menyembuhkan.
Mungkin
saatnya. Merayakan kesedihan. Semua harus senang, walau nampaknya. Tapi aku
akan sedih untuk diri sendiri. Dan bahagia untuk kamu.
Apa
ini? Bandung malam kan dingin, musim ujan lagi. Tapi, ada yg kepanasan, ada yg
terbakar. Hangus. Arang. Abu. Tertiup angin. Hilang!
Nabung
ah, kali aja nanti kamu butuh pinjem duit ke aku. Buat acara resepsi nikah
kalian. Olahraga ah, buar kuat tangannya pas salaman sama kamu dan pengantin
cowonya.
Kenapa
kamu naik motor terus? Ya aku sudah tidak kuat lagi berjalan sejak kaki kita
tak pernah saling beriringan.
Hoam.
Lagi-lagi ngantuk untuk ke 25, 5jt kalinya. Habisnya capek sih ngejar-ngejar
kamu terus dari berabad-abad yg lalu L
Kami
tetap diam-diaman, tak ada yg mulai bicara. Tapi kenapa berisik? Apa ini?
Ternyata jantungku bergemuruh di dekat kamu mah. Muach!
Kasih,
orang-orang cuma tau kau pacaran
dengannya. Mudah-mudahan hatimu ada untukku. Karena demikian, ‘bersama’
tinggallah menunggu waktu.
Ada
rindu yg melulu aku kubur dalam kalbu. Ada doa yg rutin aku panjatkan ke
angkasa untuk di sampaikan pada-Nya. Aku rindu ciptaan-Mu ya rabb.
Kangen
kamu siah. Pengen cubit pipinya, usap rambutnya, pegang tangannya. Kalau bisa
mah peluk juga. Hahahahaasamoal.
Tidur
saja ah, tau diri kok. Kamu yg aku mau teh sekarang mah Cuma bisa ketemu di
mimpi.
Jadi
ceritanya, dia selalu mimpi yg sama dengan orang yg disukainya, bahagia. Hingga
dia mengamininya bahwa itu takdir Tuhan.
Kenapa
kamu gak rindu aku sih? Padahal aku udah berusaha. Kamu aja yg cuma diem tetep
aku kangenin. Aneh.
Bilang
atau tidak. Hatiku berteriak aku rindu kamu. Di air atau angkasa ruang hampa
pun. Rindu tetap terasa dalam penantian.
Aku
kangen kamu waktu kamu bilang “aku kangen kamu” ke aku. Tapi itu dulu 25jt
tahun yg lalu.
Saat
dadaku sesak. Aku ingin tanganmu yg mengusap. Melegakan nafasku. Bukan malah
mencekik dengan salam perpisahan.
Jangan
bertanya, kenapa aku jarang bilang kangen padamu. Karena itu caraku agar kau
tak meraa bersalah akan baper ini.
Terus
melangkah pada petunjuk Tuhan berupa arah. Hingga kutemui lagi seseorang yg
kumau dan Tuhan restui.
Aku
harus berdiri, meski sendiri. Mengucapkan selamat. Setidaknya aku pernah
berjuang dalam penantian.
Jadi
ini rasanya. Sakit. Hingga relung jantung. Tapi, tidak apa. Setidaknya aku
pernah menatap, wajah manis ciptaan Tuhan.
Aku,
mengembara pada malam. Karena percaya, senyummu masih terbentang diantara
deretan bintang. Siapa yg paling indah? “kamu” teriakku.
Sepi
itu mengerikan. Di tempat mereka berbahagia, sepi bisa membuat itu mencekam.
Bahkan keramaian tak berpengaruh bagi hati yg menyendiri.
Dan
kawanku dimanapun kalian berada. Marilah kita ‘main bersama’. Tak usah ke
tempat mewah, susah! Namanya juga ‘main bersama’, yg penting kita bareng, aku
kamu kalian itu kita bersama. Dan main bukanlah perkara tempat bergengsi,
eksis. Melainkan rasa gembira, sukacita dan tawa. Ah, tak punya uang katamu?
Trus nanti pas kita sudah bekerja? Menabung harta. Bisakah uang membeli waktu?
Ada
kepada yg merindukan bahu kala hujan. Tapi kepala itu tersadar, bahwa bahu yg
dimauinya tak pernah sedia untuk kepala resahnya.
Kebodohanku
pada pagi adalah mengatakan rindu, untuk orang yg tak mau tahu itu.
Aku
selalu menitip rindu pada Tuhan. Tak mungkin Tuhan tak menyampaikan. Mungkin
memang sengaja kau abaikan.
Rindu
adalah hak segala bangsa. Dan pengabaian atas rindu adalah hak setiap manusia.
Tok
tok tok!!! Akhirnya hatimu terbuka. Tapi sudah ada dia di ruang tamumu.
Apalagi
yg bisa kulakukan? Selain menunggu kau keluar kelas, bergegas mengikutimu,
selalu harus ikhlas kau berkendara dengan ia yg menjemputmu.
Hujan
tak kunjung reda, masih melihatmu dari celah jendela. Di cafe itu, kau
bercengkrama mesra. Dengannya. Bukan aku.
Tak
beri kabar adalah kebiasaanmu. Menanti kabar adalah kebiasaanku.
Tak
ada yg spesial, karena setiap senja, merindukanmu adalah kebiasaan yg
menjingga.
Dengan
siapa kamu? Siapapun itu aku tetap menyukaimu. Sedang apa kamu? Ngapain pun
kamu aku lagi merindukanmu tanpa paksa. Dimana kamu? Dimanapun itu, di hatiku
kau tak pernah alpa.
Yg
hanya kubiarkan tumbuh hanya rindu. Sementara cemburu adalah gulma perasaan.
Tumbuh tiap saat. Tapi aku cukup rajin untuk mencabutnya.
Kopi,
kenapa kau pekat? Tenang saja, aku tak sekelam kisahmu. Sepahit apapun aku.
Pecinta selalu menghabiskanku.
Entah
mengapa, cinta selalu melahirkan harapan. Akui saja. Setidaknya karena harapan,
kita bisa memaapkan. Karena memaapkan, kita belajar tentang ikhlas pada sebuah
penantian.
Rindu
memang tidak aturan. Bahkan di sampingmu, rindu malah menjadi-jadi,
menggebu-gebu.
Kalau
jingganya senja itu indah. Maka kata apa yang cocok untuk merah merekahnya
senyum bibirmu?
Selamat
malam hujan rintik. Dan kesendirian yg coba kau usik.
Rinduku
akan seperti pagi, sebenci apapun kau pada dingin, aku akan berusaha menembus
awan untuk menghangatkanmu.
Aku
akan hancur bukan karena kau pukul. Aku hancur jika kau diamkan.
Setidaknya,
kopi kita pernah semeja, mengeja setiap pahit, hingga kita melupakan manisnya
dari aroma kisah kita. Setidaknya, mata kita pernah saling menatap. Walau hati
tak jadi menetap.
Kangen
aku mah da gak bisa naon-naon. Murukusunu we, pas deket mah ngajedog.
Rindu
menikamku, saat malam semakin sunyi. Mencekam, tanpa kabarmu. Mencibir bintang,
tak ada yg indah selain kamu.
Kesempurnaan
cinta mah kalau kita udah ‘saling’, trus Tuhan mengijinkan.
Rintik
hujan, mengusik kenangan.
Karenamu,
penantian bukanlah sesuatu yg membosankan. Sekhayal apapun katamu, aku tak
pernah mengutuk kesendirian.
Kesabaranku
adalah perasaan hambar yg terlalu lama kau abaikan.
Membusuklah
dipagi hari. Dan potongan rusuk yg tak mau kembali.
Katanya
dunia itu se sempit daun kelor, tapi kenapa kita tak pernah ketemu? Malah rindu
yg semakin meneror.
Mentari
itu mahakarya, tapi belum cukup untuk menghangatkan hatiku. Aku rindu.
Kucoba
tahan, tapi rasanya makin bergejolak. Akhirnya ku pergi diam-diam pada keepian,
mengeluarkannya perlahan atau terang-terangan. Mules aing.
Kemarin
aku kirim ‘selamat pagi’, kau balas ‘selamat pagi’. Hari ini aku kirim ‘selamat
pagi’, kau balas ‘selamat malam’. Besoknya aku kirim ‘selamat’, kau menghapus
sebelum membacanya. Aku tak kirim apapun, kau kirimi aku undangan pernikahan. ‘selamat
berbahagia’.
Perasaan
gelisah apa ini? Sebuah kisah yg tak indah kah?
Sejak
kau tinggalkan, aku mulai bersajak pada penantian.
Pergilah,
karena kepergianmu tak pernah kusesali. Yg aku sesalkan adalah kenapa bukan aku
yg menjadi alasanmu untuk menetap.
Hujan
di Bandung, hati merenung. Sebuah kota, penuh cinta.
Sebagian
orang tak mau cinlok, dikelas misalnya. Dan aku bersyukur bisa cinlok, kupikir
itu cinta apa adanya. Karena teman tidak seperti kenalan.
Bahkan,
apakah ada kata terlambat untuk persahabatan? Aku tak mengerti banyak tentang
persahabatan, persaudaraan. Ku pikir, pertemanan saja sudah cukup. Luka kita
lupakan, tawa kita abadikan. Bagiku kuliah itu fana, kenangan yg abadi.
Jika
kau tak melihatku, bukan berarti aku tidak memperhatikanmu. Jika kau tak
merindukanku, bukan berarti aku tidak mencintaimu.
Berkata
‘karma’ adalah bentuk dendam paling kesumat, so soan melupakan tapi melaknat
atas nama ‘biarkan Tuhan yg balas’.
Tuhan,
jika engkau tak mau sadarkan aku, bahwa aku tak mungkin memilikinya. Maka sadarkanlah
dia, bahwa aku selalu berusaha membahagiakannya.
Ya,
aku memang suka kamu. Tapi apakah aku harus selalu menyapamu di pagi dan malam
hari? Apakah harus selalu mengirimi puisi? Sementara, aku tau kau masih dengan
orang lain.
Katanya,
cinta datang tanpa paksaan. Dan sudah seharusnya bertahan tanpa ‘aku sudah
terlanjur’. Terpaksaan yg diperhalus.
Tak
selembut salju tapi semanis susu. Tak semanis susu tapi selembut salju.
Please.
Stop bullshit about friendship. Itu macam rayuan ala anak remaja.
Dalam
sebuah titik, aku tak berkutik pada rindu yg makin menggelitik.
Setidaknya
aku percaya bahwa aku tidak bodoh. Mungkin guruku yg kurang cocok, kami tidak
cocok. Mungkin aku harus mencari guru diluar sekolah itu. Kedunia yg lebih luas
tanpa tembok dan pagar pembatas.
Jangan
dengarkan mereka yg so tau. Dalam urusan rindu, aku tak pernah menggerutu pada
waktu untuk bertemu.
Kenapa
banyak orang terobsesi dengan panggilan sahabat?
Rukun
tetangga, tetangga yg gak rukun. Rukun warga, warga yg gak rukun. Indonesia. Saat
bilang merdeka berarti langsung merdeka?
Dulu
pernah aku berkata pada seseorang ‘aku mencintaimu SELAMANYA’. Ya, saat remaja.
Dan setelah tak ada rasa, aku tak pernah berkata demikian. Dulu aku pernah
berkata pada seseorang ‘aku MENCINTAIMU’. Saat aku meninggalkannya. Kini aku
tak berani, malu hati ini berkata itu lagi. Sekarang paling banter, aku bilang ‘aku
menyukaimu’, ‘baru suka sih, gak tau kalau nanti’. Gara-gara demikian, kau
lebih memilih diaa yg bilang ‘aku mencintaimu selamanya’. Sementara aku sudah
tidak percaya diri.
Benar
atau bener? Kebenaran atau kebeneran? ‘Benar’ lagi kebeneran salah = salah. ‘salah’
lagi kebeneran benar = benar. Belum lagi betul dan kebetulan.
Bukain
kuaci. Biar dia gak ribet. Kado itu teh.
‘Nanti’
adalah pergulatan dari usaha dan doa. Walaupun menyisihkan dogma bahwa Tuhan
telah menuliskannya jauh sebelum deklarasi perang ini.
Tubuhku
tidak jago dalam hal begadang. Tapi hatiku adalah ahli dalam hal insomnia, dia
selalu terjaga dalam hal merindukanmu.
Iya,
tak apa. Kau sebut saja ini air mata buaya. Lagian. Barusan aku curhat, dan
sekawanan buaya pada nangis, mengiba.
Aku
mau, aku mau sekali menspesialkanmu. Karena kau berhak untuk dispesialkan.
Benar
saja. Kalau Tuhan tidak berkehendak, kita bisa apa? Mungkin Tuhan menyayangiku
dan menyayanginya. Sehingga belum ada kita sekrang ini.
Tahan
diriku. Aku harus jaga dia dari sini, dari prasangka orang-orang yg akan
merendahkannya. Yg disebabkan kedekatan kita.
Ku
pikir sedikit gunanya mempollow akun medoso guru, dosen dll banyak keluhnya
sehingga turun daya hormatku padanya.
Yg
mati hanya jam tanpa baterai, waktu tetap berjalan. Kau diam atau enggak, sama
saja. Dengan kecepatan biasa waktu berjalan terus.
Kamu
sedang apa? Semoga sama denganku. Diam sih. Tapi diam-diam mikirin kamu.
Dulu,
sering aku melihat cewe, dan nunggu si cewe itu balik lihat, pas tatapan adalah
waktu yg tepat, berusaha menyampaikan ‘kamu cantik tau’. Nanti si cewe GR sampe
salting, lucu kalau udah gitu, nabrak orang lah, jatoh karena gak lihat tangga
lah, atau ketabrak pas nyebrang wkwkwk. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Pas urang
masih ganteng.
Nanti
kamu yg akan peluk aku dari belakang saat kau bilang ‘coba 90km/h atuh’. Sekarang
latihan pegang jaket aja dulu, tas juga boleh.
Tukang
dagang lebih ramah dari pacarmu yg marah ketika aku bilang. ‘coy, aku suka
pacarmu’ uhuy.
Angin
tak lewat sedetikpun, seolah sengaja buatku gerah. Tak cukupkah cemburu
memanasiku?
Sendiri
tak begitu buruk kekasih. Temanmu bisa menghianati tapi tidak dengan diri
sendiri.
Dan
grup yg rame dengan obrolan tak beraturan akan berubah hanya sebagai grup
pertanda formalitas, pengucap selamat A, B, C dst, dkk, dll, dsb.
Kalemin
we. Namanya juga pitnah, disebarkan tanpa bukti, diterima tanpa verifikasi. Ini
penjelasan, bukan alasan.
Jangan-jangan,
nanti tak ada ruang dan waktu yg tanpa kita rencanakan mempertemukan kita, yg
mempererat kita, yg memesrakan kita, yg tanpa sepengetahuan kita oleh Tuhan
rencanakan. Yg ada hanya kerinduan akan ruang dan waktu itu.
Karma
itu? Haruskah aku takut? Bolehkah aku berharap itu? Oh jangan! Jangan kau pikir
aku sombong, angkuh, so-soan atau senada apa itu yg sedang kalian pikirkan.
Rahasia
yg paling harus dijaga adalah amal.
Bunuh
diri apa bunuh orang? Bunuh diri dosa dan gak akan ada waktu untuk bertobat. Kalau
bunuh orang, seenggaknya ada waktu kali yah. Tapi, selamat datang di kesepian
(kucilkan), nerakanya dunia.
Omonganmu
tak bisa dipegang, makannya aku pegang yg lain. Tanganmu!
Tidak
ingin minta maap, maksudnya tidak mau mengecewakan, menyakiti orang lain.
Ada
pemenang tapi tidak ada pekalah. Kita bukan loser kali yah. Aamiin.
Eumh,
entah mengapa, aku merasa senang dengan namanya ‘permainan’. Aku sih bukan
maniak atau tukang ngablu. Bisa membuat tersenyum bahagia kayaknya alasan yg
lebih dari cukup.
Inginnya
aku bercerita tentang hari ini. Ah, besok saja, sekarang aku mau berterima
kasih ke berbagai pihak, terutama Dzat Yang Maha Segalanya. Lagian, malam ini,
bibirku sibuk tersenyum bahagia.
Saya
Robi, kamu Syarif dan dia Sukandi
Dia
Robi, saya Syarif dan kamu Sukandi
Kamu
Robi, dia Syarif dan saya Sukandi
Hidup
keberagaman! Jangan diseragamkan!
Kau
mengagumkan, namamu tak tertulis dalam perjalanan sukses mereka. Keyakinanku,
namamu dicatat Raqib. Sinar mereka amat terang hingga gelap tercipta juga, dan
kau mau disana, dalam kegelapan menata kesuraman, menyingkirkannya agar aib tak
terliaht oleh banyak orang. Bersabarlah. Trus bermafaat.
Siswa-Mahasiswa,
Guru-Dosen. Kenapa tidak Mahaguru? Karena eh karena, guru itu yg berilmu, dan
yg maha berilmu hanya Dia. Ah, gak tau juga sih, jangan-jangan dosen ma tidak
patut diguGu dan ditiRU.
Namanya
juga Mahasiswa. Kalau bisa: ngomong doang ya wajar, IPK tinggi doang ya wajar,
aktifis doang ya wajar, main doang ya wajar, apa-apa yg doang ya wajar. Kalau bisa
segalanya, mungkin namanya Maha Kuasa. Tapi yg maha gitu cuma Esa.
Adakah
yg bisa membaut melayang? Selain alkohol. Adakah yg membuat begadang? Selain kopi.
Adakah yg bisa membuat tenang? Selain teh. Adakah yg bisa membuat tegang? Selain
susu. Adakah semuanya cerita tentang minuman?
Kalau
ide jahat itu suka ngalir. Kok bisa yah? Seolah-olah ada bala bantuan dari
semuanya. ‘ayo! Aku dukung niatmu’. Kek gitu pokoknya.
Katanya
kalau hal sulit dipermudah, hal ribet disederhanakan, dan (berlaku) kebalikannya.
Akan ada 1 tempat diingatan seseorang, kalau tidak ‘brilian’ maka ‘bodo teu
katulungan’. Ku pikir itu berbeda, spesial!
Ah,
mungkin sebenernya kita semua mampu untuk menolong mereka yg minta. Tapi apa
kita mau? Kalau udah mampu dan mau, lah emang kita boleh? Kadang ada yg
terlarang dan dilarang.
Beberapa
orang berbangga diri, yg lainnya berendah diri, yg lainnya bersombong diri, yg
lainnya tak tau diri. Beberapa orang berbela diri, yg lainnya berbenah diri, yg
lainnya ada yg menghina yg lainnya, dengan bodoh percaya diri bahwa dirinya
akan meninggi.
Berjanjilah
jaga rahasia seperti kalian menguap. Tutupi rapat-rapat karena ada nilai-nilai
kemanusian yg dinilai.
Jangan
jadi pahlawan, yg penting jadi bagian kemenangan. Jangan jadi pahlawan, yg
penting berbuat kebaikan. Jangan jadi pahlawan, yg penting ikhlas melakukan.
Karena
dalam bermain, ada interaksi yg tidak bisa digambarkan oleh lukisan. Ada interaksi
yg tidak bisa diceritakan oleh tulisan.
Bukan
anak-anak jika melulu mengerjakan PR. Bukan anak-anak jika tidak bermain. Bermainlah!
Itu identitasmu!
Dan
hotel berbintang pun tak mampu membeli kenyamanan rumahmu. Jika tidak begitu. Mungkin
tempat tinggalmu buruk. Pindah atau perbaiki.
Bebegig
jangar. Mun diceritakeun mah peurih, siap-siap dari janari. Ngajentul nungguan
entah tau apa. Ternyata yg berdasi.
Tenagamu,
pikiranmu, waktumu, uangmu, akan dibalas oleh sesuatu yg tidak ada didunia ini.
Selamat malam kesusahan yg tidak akan pernah kutemui disurga. Kelak.
Saat
seseorang mencintaimu tanpa alasan, kau percaya bahwa itu kehendak Tuhan. Kau menerimanya.
Saat seseorang meninggalkanmu tanpa alasan, kau tak percaya bawha itu kehendak
Tuhan. Kau bilang ‘hidup ini tidak adil!’
Kau
selalu kalah dalam hal kecantikan. Tapi tidak dalam hal kecintaan.
Aku
dan kebiasaan burukku. Tak mungkin bisa diubah oleh siapapun. Dari penghafal
ayat, bahkan sistem komando sekalipun. Kecuali kamu. Kau yg mengajak,
menyertai, dan bersabar untuk aku yg lebih baik. begitulah alasan kau
dihadirkan oleh-Nya.
Keluarlah.
Jangan di dalam, memang hangat dengan selimut mu itu. Tapi aku pinta kau
kelaur. Mumpung hujan. Jangan pake payung, jas hujan, daun dll. Basahi badanmu
dengan air. Aku ingin kau sakit! Flu! Demam! Sakit lah!!! Biar apa? Supaya ada
alasan aku bertemu kamu dalam bingkai ‘menjenguk’.
Aku
bodoh dengan mengira saat aku rindu, kau pun begitu padaku.
Mencintai
teman karena kita tahu dia sedang jaim atau tidak, sifat asli atau bukan,
mengistimewakan kita atau enggak.
Langganan:
Komentar (Atom)
Salawe
Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...
-
Ya begitulah hujan selalu sama dari dulu hingga sekarang. Air. Kata orang, hujan itu 1% air dan 99% kenangan, hujannya diluar pipi-pipinya ...
-
Kamu tau apa hal terindah dari senja? Bukan lembayung yg sering orang sebut dengan sunset (yg mereka upload berpasangan). Tapi, itulah saa...