Tweets by Sukandi_Suk ">

Sabtu, 25 Juni 2016

Second

Aku terlampau gerah saat melihat kalian bermesraan. Kemudian, biarkan aku berenang, meski aku tak bisa renang. Kemudian biarkan aku tenggelam. Agar jasadku lebih awet ketimbang kedekatan kita yg aku kubur bersama harapan dan rindu yg membumi. Nanti. Jika kau ingin lihat tubuhku. Menyelamlah. Selami perasaanku yg utuh lewat tulisanku yg selalu kau abaikan. Karena. Kau akan lihat keabadian rasa. Disana, sukmaku di dunia maya.

Kau tau persamaan kamu dan celana dalam? Sama-sama ku sembunyikan tak ku pamerkan. Aku gak mau ada orang yg memakiannya dan merasa nyaman.

Kau tau eskrim? Tak berhasil mendinginkanku yg termakan cemburu. Setidaknya aku masih ada rasa. Tak seperti kamu yg lebih dingin dari eskrim. Tatkala aku menggubu-gebu merindukanmu.

Aku udah mulai duluan loh, kapan kamu suka balik ke aku? Maap aku kurang peka, jadi gak usah kode-kodean.

Aku mengikutimu tapi kau tak mau dibuntuti. Aku memperhatikanmu tapi kau tak mau dilihati. Aku mencintaimu, tapi kau menamparku. Salahku apa?

Gigimu rapih walau ada 1 yg berusaha gingsul, hampir manis. Tapi hatiku berkata kau lagi manis-manisnya.

Kengerian yg oleh negeri ini diagung-agungkan, menjadi pintarnya seseorang, menjadi beban bagi mereka yg tak mau peduli itu. Stoplah matematika yg berlebihan. Bukan pengetahuan yg kami dapat. Hanya lontaran cacian dan keluhkesah yg ada. Dosakah? Iya bagi kami. Aku akan baik-baik saja meski tak ahli matematika. Karena hidupku bukan cuma tentang hitungan.

Persoalan matematika pas sekolah tdk ada gunanya. Aku akan lupa itu, dan tetap baik-baik saja. Justru dengan adanya matematika dikehidupanku, aku malah bahagia, derita kurang satu. Karena sampai sekrang, matematika adalah kengerian.

Tak ada yg menemukan dan ditemukan, kita dipertemukan. Ya. Semua ada perpisahan. Kelak matilah yg menjadi alasan. Karena kita berTuhan sama, kita akan kembali bersua. Di Surga. Dalam rahmatnya, tak ada perpisahan lagi, sebab mati dan kiamat tak ada disana.

Aku tidak cemburu pada Rangg-Cinta atau Dilan-Milea, termasuk saat mereka bermesraan. Di banding itu, lebih baik pertemuan denganmu. Cepatlah.

Selamat pagi museum KAA dan kau pergi menyisakkan luKAA

Seperti itu, blengeplah sesukamu. Karena itu penyebab sukaku. Bodohmu saja aku sukai, apalagi indahmu. Blengeplah se-blengep-blengepnya.

Malam ini saja. Biarkan aku terlelap tidur seperti bayi. Yg bangun hanya ketika haus dan lapar. Bukan rindu dan rasa yg tertampar.

Selamat pagi matahari terbir, dan kau yg lari terbirit-birit. Kenapa? Parno apa pengen modol?
Ejekan, cacian, makian kalian jangan dihilangkan. Sebab aku ini banyak dosa yg repot bila dihapus sendirian.

Kamu mah kayak nenek-nenek  pake iteuk. Susah banget di ajak jalan.

Pada akhirnya kita saling menuduh, kenapa kita tak pernah bersama dalam ikatan yg utuh? Aku yg tak berani nembak  atau kamu yg tak berani menjauhinya? Kemudian kita saling bunuh! Siapa yg duluan mati? Kekasihmu atau rinduku?

Kalau kau ragu padaku, bagaimana aku yakin semua yg kulakukan akan membahagiakanmu.

Disana kau berdua, disini aku sendiri. Walau pernah kita bertiga. Ke empat dan seterusnya mencaci.
Aku adalah rindu yg kepagian, tapi anehnya kesiangan juga, kemaleman juga. Rindunya sepanjang hari.

Sadarlah aku telah mencintaimu degan mendesah-desah. Mencibir setiap pria yg datang dengan berjuta-juta rupiah. Menikmati rasa sakit karena tertusukku. Menyamarkan suara menjerit dengan hanya mampi berkata “ah ah ah”, pelan di telingamu. Sebimbang kamu memastikan hubungan kita, sebingung aku untuk mengekspresikannya. Sehingga yg kau dengar hanya keluhku, “oh no, oh yes” begitu. Telanjang, kemudian tubuhku terbalut nestapa dosa.

Tertawa diatas penderiataan orang lain itu gak boleh. Maka tertawalah diatas penderitaan diri sendiri. Gak penting sih. Tapi anjir! Hade!

Entah apa yg kau pilih untuk menemani pagimu. Aku sih pengen ditemani kamu. Tapi. Tau tidak dengan mereka? Mereka yg memilih air putih mungkin mengerti, bahwa kemrnian adalah kejujuran yg patut disyukuri. Mereka yg memilih susu mungkin harus kuat setelah terpukul patah hati yg hebat. Mereka yg memilih kopi mungkin bermaksud menyamarkan rasa pahit dihati dengan mengorbankan lidah. Mereka yg memilih alkohol mungkin ingin melayang karena beban kecewa terlampau berat untuk ditanggungnya. Dan aku memilih teh, karena ‘mari ngeteh, mari berbicara’. Setidaknya berbincang denganmu membuatku senang.

Mereka hanya nyaring dikuping. Tidak membuat hari merinding.

Setiap pagi aku selalu berlomba dengan mentari, siapa yg pertama akan menghangatkanmu. Nyatanya kamu hanya meninggi pesan ucap pagi darinya.

Tuhan mendengar semua doa. Tapi tidak semua dikabulkan.

Selama calon itu mencalonkan diri. Saya berat untuk memilih.

Cuma kangen doang kok. Biasa, udah malem. Tapi pagi pasti rindu. Kamvretnya semua aktivitas nanyain kamu, kecuali lagi tidur.

Ayo kita sepakat untuk tidak menyepakati kesepakatan apapun. Sepakat? TIDAK!!! Bagus.
Makin berisi makin merunduk. Udah susah nyari orang begitu. Wong sawahnya udah diganti perumahan mewah.

Peluk aku. Agar ada alasan jangtungku berdetak. Genggam aku, agar ada alasan darahku mengalir. Tatap aku, agar ada alasan aku melihat dunia.

Iya aku yg bodoh. Dengan menjadi penggemar rahasiamu. Menyukai diam-diam dan dengan angkuh ingin ditemukan dalam penantian.

Selamat pagi. Gimana? Pasti bahagia kan? Aku juga. Bukan bohong. Tapi sedang ku usahakan.

Lagi kangen kamu. Kamu diem aja. Aku gak bakal ganggu kok. Paling guling yg risih di peluk aku tiap harinya.

Lucu aja. Sekarang kita sibuk saling melupakan, padahal dulu begitu mudah untuk saling merindukan.

Bandung cantik tanpa kantong plastik. Kamu juga cantik tanpa kosmetik. BHSG gak seru tanpa logistik.

Lelah katamu? Jangan menyerah kataku. Kami tidak mengajarkan kalian mengenal kemenangan dan derita. Yg kami mau adalah kenangan dalam cerita. #lomba.

Teman-temanmu tertawa. Teman-temanku berbela sungkawa.

Habis gelap terbitlah terang. Dulu kerjaan peyeump itu di dapur, sumur dan kasur. Sekarang sih enggak. Enggak ngapa-ngapain mungkin. Semoga kantor tidak menelantarkan rumah tangganya.

Hening-diam, keheningan-kediaman. Ko beda? Kayak benar-bener, kebenaran-kebeneran. Gak sengaja. Kebetulan aja lagi betul.

Aduh manis, manis gula jawa. Datangnya menangis, pergi sambil tertawa.

Yang cowok nyari tulang rusuknya yg hilang. Yg cewe nyari yg siap jadi tulang punggungnya. Jodoh hanya bincang-bincang tentang tulang belulang.

Rela? Tau apa kau tentang  rela? Jika kehancurannya adalah bukti dikabulkannya atas setiap doamu.
Kebetulan Tuhan kita sama. Doa kita saja yg berbeda, kau dan dia berharap kalian, aku berharap kita. Mana yg Tuhan kabulkan. Tunggu jangan ragu.

Sebenarnya, aku tidak pernah punya waktu untukmu. Jika aku sedang bersamamu, itu artinya ada waktu yg telah aku korbankan.

Sesederhana aku merindukanmu, serumit itu kau mencintainya. Sesederhana aku mencintaimu, serumit itu kau ingin bahagia dengannya.

Ragaku lelah, tapi hati berkata jangan menyerah. Berbaring di kasur, Cuma dia yg tau hatiku hancur.
Berapa kg gula kau tambah, tak sebanding dengan berat rinduku. Semanis apapun gula, kopi akan tetap pahit hingga tercelup senyummu.

Setidaknya kopi kita pernah semeja, mengeja setiap pahit. Hingga lupa bahwa kisah kita pernah indah. Setidaknya, kopi kita pernah bersanding walau kaki kita tidak lagi beriring.

Bukankah hidup adalah ujian? Jangan bilang mau fokus ujian. Kenapa tidak sertakan aku bersama ujianmu itu?

Kau yg tersayang, terbayang, menghilang.

Keheningan diantara kita adalah gerbang perpisahan. Diamnya diantara kita adalah ucapan selamat datang pada kepedihan.

Cuma hati sendiri dan Tuhan yg tak bisa dibohongi. Aku tak peduli, aku rindu, dan aku padamu sampai kehendak-Nya bilang ‘sudah cukup’.

Jika aku dianjingi, maka ‘guk guk guk’ artinya ‘selamat pagi’. Dari anjingmu yg tak kau biarkan bebas, tapi tak kau beri makan juga.

Sudah terbiasa bukan? Kalau sakit datang udah tau obatnya kan? Tak perlu lebay minta di rawat dengan biaya mahal. Karena tuhan selalu menyembuhkan.

Mungkin saatnya. Merayakan kesedihan. Semua harus senang, walau nampaknya. Tapi aku akan sedih untuk diri sendiri. Dan bahagia untuk kamu.

Apa ini? Bandung malam kan dingin, musim ujan lagi. Tapi, ada yg kepanasan, ada yg terbakar. Hangus. Arang. Abu. Tertiup angin. Hilang!

Nabung ah, kali aja nanti kamu butuh pinjem duit ke aku. Buat acara resepsi nikah kalian. Olahraga ah, buar kuat tangannya pas salaman sama kamu dan pengantin cowonya.

Kenapa kamu naik motor terus? Ya aku sudah tidak kuat lagi berjalan sejak kaki kita tak pernah saling beriringan.

Hoam. Lagi-lagi ngantuk untuk ke 25, 5jt kalinya. Habisnya capek sih ngejar-ngejar kamu terus dari berabad-abad yg lalu L

Kami tetap diam-diaman, tak ada yg mulai bicara. Tapi kenapa berisik? Apa ini? Ternyata jantungku bergemuruh di dekat kamu mah. Muach!

Kasih, orang-orang  cuma tau kau pacaran dengannya. Mudah-mudahan hatimu ada untukku. Karena demikian, ‘bersama’ tinggallah menunggu waktu.

Ada rindu yg melulu aku kubur dalam kalbu. Ada doa yg rutin aku panjatkan ke angkasa untuk di sampaikan pada-Nya. Aku rindu ciptaan-Mu ya rabb.

Kangen kamu siah. Pengen cubit pipinya, usap rambutnya, pegang tangannya. Kalau bisa mah peluk juga. Hahahahaasamoal.

Tidur saja ah, tau diri kok. Kamu yg aku mau teh sekarang mah Cuma bisa ketemu di mimpi.

Jadi ceritanya, dia selalu mimpi yg sama dengan orang yg disukainya, bahagia. Hingga dia mengamininya bahwa itu takdir Tuhan.

Kenapa kamu gak rindu aku sih? Padahal aku udah berusaha. Kamu aja yg cuma diem tetep aku kangenin. Aneh.

Bilang atau tidak. Hatiku berteriak aku rindu kamu. Di air atau angkasa ruang hampa pun. Rindu tetap terasa dalam penantian.

Aku kangen kamu waktu kamu bilang “aku kangen kamu” ke aku. Tapi itu dulu 25jt tahun yg lalu.

Saat dadaku sesak. Aku ingin tanganmu yg mengusap. Melegakan nafasku. Bukan malah mencekik dengan salam perpisahan.

Jangan bertanya, kenapa aku jarang bilang kangen padamu. Karena itu caraku agar kau tak meraa bersalah akan baper ini.

Terus melangkah pada petunjuk Tuhan berupa arah. Hingga kutemui lagi seseorang yg kumau dan Tuhan restui.

Aku harus berdiri, meski sendiri. Mengucapkan selamat. Setidaknya aku pernah berjuang dalam penantian.

Jadi ini rasanya. Sakit. Hingga relung jantung. Tapi, tidak apa. Setidaknya aku pernah menatap, wajah manis ciptaan Tuhan.

Aku, mengembara pada malam. Karena percaya, senyummu masih terbentang diantara deretan bintang. Siapa yg paling indah? “kamu” teriakku.

Sepi itu mengerikan. Di tempat mereka berbahagia, sepi bisa membuat itu mencekam. Bahkan keramaian tak berpengaruh bagi hati yg menyendiri.

Dan kawanku dimanapun kalian berada. Marilah kita ‘main bersama’. Tak usah ke tempat mewah, susah! Namanya juga ‘main bersama’, yg penting kita bareng, aku kamu kalian itu kita bersama. Dan main bukanlah perkara tempat bergengsi, eksis. Melainkan rasa gembira, sukacita dan tawa. Ah, tak punya uang katamu? Trus nanti pas kita sudah bekerja? Menabung harta. Bisakah uang membeli waktu?

Ada kepada yg merindukan bahu kala hujan. Tapi kepala itu tersadar, bahwa bahu yg dimauinya tak pernah sedia untuk kepala resahnya.

Kebodohanku pada pagi adalah mengatakan rindu, untuk orang yg tak mau tahu itu.

Aku selalu menitip rindu pada Tuhan. Tak mungkin Tuhan tak menyampaikan. Mungkin memang sengaja kau abaikan.

Rindu adalah hak segala bangsa. Dan pengabaian atas rindu adalah hak setiap manusia.

Tok tok tok!!! Akhirnya hatimu terbuka. Tapi sudah ada dia di ruang tamumu.

Apalagi yg bisa kulakukan? Selain menunggu kau keluar kelas, bergegas mengikutimu, selalu harus ikhlas kau berkendara dengan ia yg menjemputmu.

Hujan tak kunjung reda, masih melihatmu dari celah jendela. Di cafe itu, kau bercengkrama mesra. Dengannya. Bukan aku.

Tak beri kabar adalah kebiasaanmu. Menanti kabar adalah kebiasaanku.

Tak ada yg spesial, karena setiap senja, merindukanmu adalah kebiasaan yg menjingga.

Dengan siapa kamu? Siapapun itu aku tetap menyukaimu. Sedang apa kamu? Ngapain pun kamu aku lagi merindukanmu tanpa paksa. Dimana kamu? Dimanapun itu, di hatiku kau tak pernah alpa.

Yg hanya kubiarkan tumbuh hanya rindu. Sementara cemburu adalah gulma perasaan. Tumbuh tiap saat. Tapi aku cukup rajin untuk mencabutnya.

Kopi, kenapa kau pekat? Tenang saja, aku tak sekelam kisahmu. Sepahit apapun aku. Pecinta selalu menghabiskanku.

Entah mengapa, cinta selalu melahirkan harapan. Akui saja. Setidaknya karena harapan, kita bisa memaapkan. Karena memaapkan, kita belajar tentang ikhlas pada sebuah penantian.

Rindu memang tidak aturan. Bahkan di sampingmu, rindu malah menjadi-jadi, menggebu-gebu.

Kalau jingganya senja itu indah. Maka kata apa yang cocok untuk merah merekahnya senyum bibirmu?

Selamat malam hujan rintik. Dan kesendirian yg coba kau usik.

Rinduku akan seperti pagi, sebenci apapun kau pada dingin, aku akan berusaha menembus awan untuk menghangatkanmu.

Aku akan hancur bukan karena kau pukul. Aku hancur jika kau diamkan.

Setidaknya, kopi kita pernah semeja, mengeja setiap pahit, hingga kita melupakan manisnya dari aroma kisah kita. Setidaknya, mata kita pernah saling menatap. Walau hati tak jadi menetap.

Kangen aku mah da gak bisa naon-naon. Murukusunu we, pas deket mah ngajedog.

Rindu menikamku, saat malam semakin sunyi. Mencekam, tanpa kabarmu. Mencibir bintang, tak ada yg indah selain kamu.

Kesempurnaan cinta mah kalau kita udah ‘saling’, trus Tuhan mengijinkan.

Rintik hujan, mengusik kenangan.

Karenamu, penantian bukanlah sesuatu yg membosankan. Sekhayal apapun katamu, aku tak pernah mengutuk kesendirian.

Kesabaranku adalah perasaan hambar yg terlalu lama kau abaikan.

Membusuklah dipagi hari. Dan potongan rusuk yg tak mau kembali.

Katanya dunia itu se sempit daun kelor, tapi kenapa kita tak pernah ketemu? Malah rindu yg semakin meneror.

Mentari itu mahakarya, tapi belum cukup untuk menghangatkan hatiku. Aku rindu.

Kucoba tahan, tapi rasanya makin bergejolak. Akhirnya ku pergi diam-diam pada keepian, mengeluarkannya perlahan atau terang-terangan. Mules aing.

Kemarin aku kirim ‘selamat pagi’, kau balas ‘selamat pagi’. Hari ini aku kirim ‘selamat pagi’, kau balas ‘selamat malam’. Besoknya aku kirim ‘selamat’, kau menghapus sebelum membacanya. Aku tak kirim apapun, kau kirimi aku undangan pernikahan. ‘selamat berbahagia’.

Perasaan gelisah apa ini? Sebuah kisah yg tak indah kah?

Sejak kau tinggalkan, aku mulai bersajak pada penantian.

Pergilah, karena kepergianmu tak pernah kusesali. Yg aku sesalkan adalah kenapa bukan aku yg menjadi alasanmu untuk menetap.

Hujan di Bandung, hati merenung. Sebuah kota, penuh cinta.

Sebagian orang tak mau cinlok, dikelas misalnya. Dan aku bersyukur bisa cinlok, kupikir itu cinta apa adanya. Karena teman tidak seperti kenalan.

Bahkan, apakah ada kata terlambat untuk persahabatan? Aku tak mengerti banyak tentang persahabatan, persaudaraan. Ku pikir, pertemanan saja sudah cukup. Luka kita lupakan, tawa kita abadikan. Bagiku kuliah itu fana, kenangan yg abadi.

Jika kau tak melihatku, bukan berarti aku tidak memperhatikanmu. Jika kau tak merindukanku, bukan berarti aku tidak mencintaimu.

Berkata ‘karma’ adalah bentuk dendam paling kesumat, so soan melupakan tapi melaknat atas nama ‘biarkan Tuhan yg balas’.

Tuhan, jika engkau tak mau sadarkan aku, bahwa aku tak mungkin memilikinya. Maka sadarkanlah dia, bahwa aku selalu berusaha membahagiakannya.

Ya, aku memang suka kamu. Tapi apakah aku harus selalu menyapamu di pagi dan malam hari? Apakah harus selalu mengirimi puisi? Sementara, aku tau kau masih dengan orang lain.

Katanya, cinta datang tanpa paksaan. Dan sudah seharusnya bertahan tanpa ‘aku sudah terlanjur’. Terpaksaan yg diperhalus.

Tak selembut salju tapi semanis susu. Tak semanis susu tapi selembut salju.

Please. Stop bullshit about friendship. Itu macam rayuan ala anak remaja.

Dalam sebuah titik, aku tak berkutik pada rindu yg makin menggelitik.

Setidaknya aku percaya bahwa aku tidak bodoh. Mungkin guruku yg kurang cocok, kami tidak cocok. Mungkin aku harus mencari guru diluar sekolah itu. Kedunia yg lebih luas tanpa tembok dan pagar pembatas.

Jangan dengarkan mereka yg so tau. Dalam urusan rindu, aku tak pernah menggerutu pada waktu untuk bertemu.

Kenapa banyak orang terobsesi dengan panggilan sahabat?

Rukun tetangga, tetangga yg gak rukun. Rukun warga, warga yg gak rukun. Indonesia. Saat bilang merdeka berarti langsung merdeka?

Dulu pernah aku berkata pada seseorang ‘aku mencintaimu SELAMANYA’. Ya, saat remaja. Dan setelah tak ada rasa, aku tak pernah berkata demikian. Dulu aku pernah berkata pada seseorang ‘aku MENCINTAIMU’. Saat aku meninggalkannya. Kini aku tak berani, malu hati ini berkata itu lagi. Sekarang paling banter, aku bilang ‘aku menyukaimu’, ‘baru suka sih, gak tau kalau nanti’. Gara-gara demikian, kau lebih memilih diaa yg bilang ‘aku mencintaimu selamanya’. Sementara aku sudah tidak percaya diri.

Benar atau bener? Kebenaran atau kebeneran? ‘Benar’ lagi kebeneran salah = salah. ‘salah’ lagi kebeneran benar = benar. Belum lagi betul dan kebetulan.

Bukain kuaci. Biar dia gak ribet. Kado itu teh.

‘Nanti’ adalah pergulatan dari usaha dan doa. Walaupun menyisihkan dogma bahwa Tuhan telah menuliskannya jauh sebelum deklarasi perang ini.

Tubuhku tidak jago dalam hal begadang. Tapi hatiku adalah ahli dalam hal insomnia, dia selalu terjaga dalam hal merindukanmu.

Iya, tak apa. Kau sebut saja ini air mata buaya. Lagian. Barusan aku curhat, dan sekawanan buaya pada nangis, mengiba.

Aku mau, aku mau sekali menspesialkanmu. Karena kau berhak untuk dispesialkan.

Benar saja. Kalau Tuhan tidak berkehendak, kita bisa apa? Mungkin Tuhan menyayangiku dan menyayanginya. Sehingga belum ada kita sekrang ini.

Tahan diriku. Aku harus jaga dia dari sini, dari prasangka orang-orang yg akan merendahkannya. Yg disebabkan kedekatan kita.

Ku pikir sedikit gunanya mempollow akun medoso guru, dosen dll banyak keluhnya sehingga turun daya hormatku padanya.

Yg mati hanya jam tanpa baterai, waktu tetap berjalan. Kau diam atau enggak, sama saja. Dengan kecepatan biasa waktu berjalan terus.

Kamu sedang apa? Semoga sama denganku. Diam sih. Tapi diam-diam mikirin kamu.

Dulu, sering aku melihat cewe, dan nunggu si cewe itu balik lihat, pas tatapan adalah waktu yg tepat, berusaha menyampaikan ‘kamu cantik tau’. Nanti si cewe GR sampe salting, lucu kalau udah gitu, nabrak orang lah, jatoh karena gak lihat tangga lah, atau ketabrak pas nyebrang wkwkwk. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Pas urang masih ganteng.

Nanti kamu yg akan peluk aku dari belakang saat kau bilang ‘coba 90km/h atuh’. Sekarang latihan pegang jaket aja dulu, tas juga boleh.

Tukang dagang lebih ramah dari pacarmu yg marah ketika aku bilang. ‘coy, aku suka pacarmu’ uhuy.

Angin tak lewat sedetikpun, seolah sengaja buatku gerah. Tak cukupkah cemburu memanasiku?

Sendiri tak begitu buruk kekasih. Temanmu bisa menghianati tapi tidak dengan diri sendiri.

Dan grup yg rame dengan obrolan tak beraturan akan berubah hanya sebagai grup pertanda formalitas, pengucap selamat A, B, C dst, dkk, dll, dsb.

Kalemin we. Namanya juga pitnah, disebarkan tanpa bukti, diterima tanpa verifikasi. Ini penjelasan, bukan alasan.

Jangan-jangan, nanti tak ada ruang dan waktu yg tanpa kita rencanakan mempertemukan kita, yg mempererat kita, yg memesrakan kita, yg tanpa sepengetahuan kita oleh Tuhan rencanakan. Yg ada hanya kerinduan akan ruang dan waktu itu.

Karma itu? Haruskah aku takut? Bolehkah aku berharap itu? Oh jangan! Jangan kau pikir aku sombong, angkuh, so-soan atau senada apa itu yg sedang kalian pikirkan.

Rahasia yg paling harus dijaga adalah amal.

Bunuh diri apa bunuh orang? Bunuh diri dosa dan gak akan ada waktu untuk bertobat. Kalau bunuh orang, seenggaknya ada waktu kali yah. Tapi, selamat datang di kesepian (kucilkan), nerakanya dunia.

Omonganmu tak bisa dipegang, makannya aku pegang yg lain. Tanganmu!

Tidak ingin minta maap, maksudnya tidak mau mengecewakan, menyakiti orang lain.

Ada pemenang tapi tidak ada pekalah. Kita bukan loser kali yah. Aamiin.

Eumh, entah mengapa, aku merasa senang dengan namanya ‘permainan’. Aku sih bukan maniak atau tukang ngablu. Bisa membuat tersenyum bahagia kayaknya alasan yg lebih dari cukup.

Inginnya aku bercerita tentang hari ini. Ah, besok saja, sekarang aku mau berterima kasih ke berbagai pihak, terutama Dzat Yang Maha Segalanya. Lagian, malam ini, bibirku sibuk tersenyum bahagia.

Saya Robi, kamu Syarif dan dia Sukandi
Dia Robi, saya Syarif dan kamu Sukandi
Kamu Robi, dia Syarif dan saya Sukandi
Hidup keberagaman! Jangan diseragamkan!

Kau mengagumkan, namamu tak tertulis dalam perjalanan sukses mereka. Keyakinanku, namamu dicatat Raqib. Sinar mereka amat terang hingga gelap tercipta juga, dan kau mau disana, dalam kegelapan menata kesuraman, menyingkirkannya agar aib tak terliaht oleh banyak orang. Bersabarlah. Trus bermafaat.

Siswa-Mahasiswa, Guru-Dosen. Kenapa tidak Mahaguru? Karena eh karena, guru itu yg berilmu, dan yg maha berilmu hanya Dia. Ah, gak tau juga sih, jangan-jangan dosen ma tidak patut diguGu dan ditiRU.

Namanya juga Mahasiswa. Kalau bisa: ngomong doang ya wajar, IPK tinggi doang ya wajar, aktifis doang ya wajar, main doang ya wajar, apa-apa yg doang ya wajar. Kalau bisa segalanya, mungkin namanya Maha Kuasa. Tapi yg maha gitu cuma Esa.

Adakah yg bisa membaut melayang? Selain alkohol. Adakah yg membuat begadang? Selain kopi. Adakah yg bisa membuat tenang? Selain teh. Adakah yg bisa membuat tegang? Selain susu. Adakah semuanya cerita tentang minuman?

Kalau ide jahat itu suka ngalir. Kok bisa yah? Seolah-olah ada bala bantuan dari semuanya. ‘ayo! Aku dukung niatmu’. Kek gitu pokoknya.

Katanya kalau hal sulit dipermudah, hal ribet disederhanakan, dan (berlaku) kebalikannya. Akan ada 1 tempat diingatan seseorang, kalau tidak ‘brilian’ maka ‘bodo teu katulungan’. Ku pikir itu berbeda, spesial!

Ah, mungkin sebenernya kita semua mampu untuk menolong mereka yg minta. Tapi apa kita mau? Kalau udah mampu dan mau, lah emang kita boleh? Kadang ada yg terlarang dan dilarang.

Beberapa orang berbangga diri, yg lainnya berendah diri, yg lainnya bersombong diri, yg lainnya tak tau diri. Beberapa orang berbela diri, yg lainnya berbenah diri, yg lainnya ada yg menghina yg lainnya, dengan bodoh percaya diri bahwa dirinya akan meninggi.

Berjanjilah jaga rahasia seperti kalian menguap. Tutupi rapat-rapat karena ada nilai-nilai kemanusian yg dinilai.

Jangan jadi pahlawan, yg penting jadi bagian kemenangan. Jangan jadi pahlawan, yg penting berbuat kebaikan. Jangan jadi pahlawan, yg penting ikhlas melakukan.

Karena dalam bermain, ada interaksi yg tidak bisa digambarkan oleh lukisan. Ada interaksi yg tidak bisa diceritakan oleh tulisan.

Bukan anak-anak jika melulu mengerjakan PR. Bukan anak-anak jika tidak bermain. Bermainlah! Itu identitasmu!

Dan hotel berbintang pun tak mampu membeli kenyamanan rumahmu. Jika tidak begitu. Mungkin tempat tinggalmu buruk. Pindah atau perbaiki.

Bebegig jangar. Mun diceritakeun mah peurih, siap-siap dari janari. Ngajentul nungguan entah tau apa. Ternyata yg berdasi.

Tenagamu, pikiranmu, waktumu, uangmu, akan dibalas oleh sesuatu yg tidak ada didunia ini. Selamat malam kesusahan yg tidak akan pernah kutemui disurga. Kelak.

Saat seseorang mencintaimu tanpa alasan, kau percaya bahwa itu kehendak Tuhan. Kau menerimanya. Saat seseorang meninggalkanmu tanpa alasan, kau tak percaya bawha itu kehendak Tuhan. Kau bilang ‘hidup ini tidak adil!’

Kau selalu kalah dalam hal kecantikan. Tapi tidak dalam hal kecintaan.

Aku dan kebiasaan burukku. Tak mungkin bisa diubah oleh siapapun. Dari penghafal ayat, bahkan sistem komando sekalipun. Kecuali kamu. Kau yg mengajak, menyertai, dan bersabar untuk aku yg lebih baik. begitulah alasan kau dihadirkan oleh-Nya.

Keluarlah. Jangan di dalam, memang hangat dengan selimut mu itu. Tapi aku pinta kau kelaur. Mumpung hujan. Jangan pake payung, jas hujan, daun dll. Basahi badanmu dengan air. Aku ingin kau sakit! Flu! Demam! Sakit lah!!! Biar apa? Supaya ada alasan aku bertemu kamu dalam bingkai ‘menjenguk’.

Aku bodoh dengan mengira saat aku rindu, kau pun begitu padaku.

Mencintai teman karena kita tahu dia sedang jaim atau tidak, sifat asli atau bukan, mengistimewakan kita atau enggak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...