Tweets by Sukandi_Suk ">

Minggu, 26 Februari 2017

Kenyamanan yg Hakiki

Aku seorang wanita biasa, dan dia seorang pria biasa.

Sesudah dia kembali dari shalatnya yg telat, sekitar pukul 2 siang. Dan dia trus menerus memainkan games ponselnya, aku menggodanya supaya tak terlalu serius dan mulai mengajaknya bercanda.

Ah ku pikir lelah, aku nyender saja di bahunya. Bahunya kecil, gak berbidang, gak empuk pula, sedikit agak payah. Namun aku tetap tiduran d pundaknya. Hingga aku benar2 tertidur.

Kemudian terbangun. Kulihat jam dinding bergambarkan Batman. Sudah pukul 3. Sepertinya aku tidur pulas.

Dia: bagaimana tidurnya nona?
Aku: ah enak, aku mau bahumu ku bawa pulang. Boleh?
Dia: jangan. Nanti banyak ilernya.
Aku: hah? Aku ngiler?
Dia: iya.

Ini pasti gara2 terlalu nyaman. Enak sekali rasanya tidur kali ini.

Dia: di celana paha ku juga ada ilernya.

Aku baru sadar pas tadi bangun aku sudah agak selonjoran dan meringkuk.
Mungkin kah aku nyaman juga tidur d pahanya?

Aku: hahahaa
Dia: kau malah ketawa. Bersihin kali.
Aku: aku ke enakan tidur kayaknya. Sampai buat pulau d dua tempat.

Kemudian dia mematikan gamenya dan memperdengarkan sebuah rekaman.
DENGKURAN!!!
Seorang perempuan berdengkur! Dan itu AKU!

Malu juga rasanya 3x aku disodorkan pakta bahwa aku merasa nyaman tidur d bagian tubuhnya.

Dia: ketawain diri sendiri sana. Aku mau shalat.
Aku: hahaha iya. Nanti aku ketawain diri sendiri. Tapi, bukannya kamu udh shalat?

Dia menyodorkan tangan kirinya, bermaksud agar aku melihat jam tangannya.

Dia: jam dinding itu kayaknya mati pas jam 3. Dan sekrang sudah jam 4. Aku telat shalat lagi. Gara2 lupa waktu.

Dia hanya lupa waktu. Sedangkan aku sudah lupa diri. Merasa nyaman dengan iler di bahu dan celananya. Mendengkur seperti orang tertidur dengan nyamannya. Dan sekarang. Lama sekali aku tidur dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...