Tweets by Sukandi_Suk ">

Senin, 24 Oktober 2016

Teh Manis

Teh manis adalah cerita ku dengan keluarga. Khususnya ibu. Aku biasa memanggilnya mamah. Kau bebas memanggilnya siapa. Asalkan sopan, sebab kalau tidak, bukan hanya dia saja, tapi semua keluarga akan tidak suka padamu. Ini manusiawi loh. Orang akan marah jika yg tersayangnya dilecehkan bahkan disakiti.
Aku dan asma adalah 2 hal yg menyatu dan ingin aku pisahkan. Dengan tegas, aku menolaknya! Apaan sih asma itu. Dia cuma bisa menyusahkanku. Cape dikit, asma. Dingin dikit, asma. Debu dikit, asma. Sakit dikit, asma. Apapun. Dengan memikirkan asma, pikiranku stress bersamaan.
Apalagi kalau lagi kambuh-kambuhnya. Dia itu selalu memaksaku untuk ke UGD. Tempat yg bersih namun tidak ingin aku masuki. Mending kalau aku bisa sendiri. Asma ini selain merepotkanku, juga merepotkan org2 d sekitarku. Malu rasanya aku. Kadang membangunkan org yg tidur. Kau tahu? Menyusahkan.
Menggerutu mulai menjadi kebiasaan ku.
Namun, semua itu berubah. Sudut pandangku sedikit tearahkan pada gambaran yg menenangkan. Ternyata, selain menyusahkan. Asma adalah penyakit yg Insyaallah menghapus dosa ku. Dengan syarat; aku benar2 ikhlas. Namun harus d barengi usaha untuk pengobatannya.
Apalagi ibuku.
Pas aku tidur d rumah. Jam 4 subuh aku bangun. Karena nafasku berisik, menyedot oksigen susah, rasanya dada terhimpit. Sesak singkatnya. Kemudian aku pindah dari kamar ke ruangan tengah. Ibuku bangun tak lama dari itu. Dan rasa2nya dia mendengar bagaimana tertatihnya hidungku untuk bernafas. Namun dia tak membangunkanku yg tertidur d sofa ruang tengah.

Sekitar jam 05. 30an aku bangun dan sembahyang. Suara hidungku sudah lembut. Dan tak bersuara.
Dan aku pergi ke dapur untuk melihat ibuku.


Aku: Mah, masak apa?
Mamah: ini, buat soto, masih ada daging ayam yg kemaren d beli.
Aku: ooo,, mantap!
Mamah: gimana?
Aku: apanya?
Mamah: tdi subuh nafasnya bersuara. Mamah udah bikinin teh manis.


Kemudian aku melihat sebuah gelas d meja, samping teko andalan keluarga. Kusentuh dan merasakan teh manis sudah agak dingin. Tapi hati sangat hangat sekali, apa ini? aku serasa d dekap meski tak d peluk. Aku merasa disayangi meski tidak di pacari. Aku merasakan hal yg membuatku nyaman, aman, dan diayomi. Aku merasa bahwa dengan ibuku, aku tidak perlu wanita lain. Bahwa dengannya; aku, kakakku dan ayahku adalah pria beruntung yg memilikinya. Bahwa dengannya perempuan yg sedang masak soto itu, aku ingin terus merasakan cintanya lewat makanannya. Bahwa bila aku dilahirkan lagi aku ingin keluar dari rahimnya. Lagi dan lagi.
Teh manis ini bisa saja dibikin oleh siapapun, bahkan aku bisa beli di berbagai tempat. Tapi aku tak mau. Aku senang dengan teh manis ini.
Aku: sudah Mah, sudah gak berisik (maksudku nafasku). Mau bersih2 dulu Mah.
Harusnya aku bilang terima kasih. Harusnya begitu. Tapi aku tidak. Memang bodoh aku ini, sombong pula.
Aku habiskan teh manis dalam satu kali tegukkan. Rasanya dengan itu aku sudah bilang "terima kasih" dan "aku suka teh manis ini".
Sambil berjalan, aku pergi keluar dengan perasaan terharu namun tak mau berpapasan dgn ayah atau adik. Malu nanti kelihatannya. Pria hebat sepertiku menjatuhkan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...