Tweets by Sukandi_Suk ">

Minggu, 20 November 2016

Indomie

Cerita tentang hujan atau kenangan yg jatuh bersamaan?
Antara aku, kamu, permintaan dan keinginan.
Ingatkah saat deras hujan Bandung, yg mengawali perjalanan kita. Dan kau bilang tak bisa berhenti untuk sekedar berteduh, aku sih selalu patuh. Tentang kewajiban kita pada Tuhan yg belum sempat d laksanakan.
"Aku ingin shalat d kostan"
Itu permintaanmu.
"Gak mau berteduh, nanti lama"
Itu keinginanmu.
Semua ku kabulkan. Bukan karena aku Tuhan. Melainkan. Kau hanya punya aku d perjalanan itu. Dan aku tak pernah tega untuk membantah, pada seorang perempuan yg membuatku betah. Lagi pula, ada benarnya, karena kita basah kuyup di perjalanan. Sangat aneh bila kita mampir d mushola dan sembahyang.
Kemudian sampailah d tempat berteduh, yg kau bayar kamar itu setiap tahunnya. Kepunyaan org tapi kaulah pemilik sementaranya.
Dinginnya membuat kulit ku keriput. Seperti nenek-kakek2.
Dingin, menembus kulit, daging hingga tulang dan sampai pada sum-sum yg tak mudah d jamah.
Kulihat kau pun gtu. Menggigil, mata sayup. Dan tanganmu tetap kau tempatkan seolah memeluk tubuhmu sendiri.
Aku bisa saja dgn kurang ajar merangkulmu dari belakang, tanpa tanya terlebih dahulu, atau secara perlahan dan berbagai macam rayuan, menawarkan diri untuk menghangatkan tubuhmu. Lalu bersetubuhlah kita.
Setidaknya itu lah bisikan kurang ajar dari nafsu yg ingin menguasai ku dgn alasan romantisme anak zaman sekrang.
Bahkan, bisa saja aku meniru kebiasaan yg tanpa permisi, menyambar tanganku sehingga jari kita saling mengisi.
Tidak! Tak satupun keluar dari bibirku. Itu hanya debat hebat, yg sesaat dan bisa bikin sesat.
"Aku ingin teh manis panas"
Itu permintaanku.
"Kayaknya kita minum bareng aja"
Itu keinginanku.
Iya. Bukan hanya itu. Aku mengajakmu untuk memesan Indomie. Ada orang aneh menyanyikan "disaat cinta bersemi, cacing oge rasa na Sarimi".

Bye!

aku adalah nyiur melambai
ditepi putihnya bibir pantai
meratapi kisah kasih tak sampai
mengajakmu menepi agar mudah kugapai


kau pergi bersama seseorang
dgn dia yg selalu bilang
bahwa dihatinya hanya ada sayang
akupun begitu, walau tdk bicara lantang

bagaimana bisa? kalau lidahku sibuk bersilat
agar sang fajar tidak begitu menyengat
bagaimana bisa? kalau bibirku trus meniru angin santai
yang membelai rambutmu helai demi helai
bagaimana bisa? kalau mulutku terus komat-kamit
membaca mantra penenang saat kau pergi tanpa pamit

sudahlah kurelakan saja kau menghilang.
dan saat kau hendak pulang
mungkin aku masih ada, mungkin juga sudah ditebang

Minggu, 13 November 2016

Mata-Hati

Kemudian orang-orang bertanya.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Apakah kalian saling memantankan?"

Kemudian aku diam.

Dan mereka seolah-olah menunggu bibirku berucap. Padahal aku tak berniat untuk menjawab. Seorang diantara mereka bersemangat untuk mendesak agar aku mulai bicara seperti yg mereka kehendak. Kemudian. . . .

Aku: "Begini. Dulu. Kaki kami pernah menginjak pasir yang sama. Sesekali ada ombak yang mampir di telapak. Kemudian. Sebelah kiri kami adalah orang-orang yg sedang memaksa ingin mengabadikan poto kami. Dengan menyuruh berdiri saling berhadapan. Mata kami berjarak dua jengkal orang dewasa. Samping kanan kami ada pantai yg mulai ditinggalkan orang. Di belakangku ada matahari yg perlahan tenggelam. Dalam keadaan itu, saat sunset itu. Poto berhasil mengabadikan. Saat aku melihat poto itu. Aku berkata "setidaknya, mata kita pernah saling menatap, meski hati tak jadi menetap".

Namun perkataan antara mata dan hati itu tak pernah ku bicarakan sekalipun. Hingga akhirnya aku ingin menuliskannya. Di sini.

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...