Cerita tentang hujan atau kenangan yg jatuh bersamaan?
Antara aku, kamu, permintaan dan keinginan.
Ingatkah saat deras hujan Bandung, yg mengawali perjalanan kita. Dan kau bilang tak bisa berhenti untuk sekedar berteduh, aku sih selalu patuh. Tentang kewajiban kita pada Tuhan yg belum sempat d laksanakan.
"Aku ingin shalat d kostan"
Itu permintaanmu.
"Gak mau berteduh, nanti lama"
Itu keinginanmu.
Semua ku kabulkan. Bukan karena aku Tuhan. Melainkan. Kau hanya punya aku d perjalanan itu. Dan aku tak pernah tega untuk membantah, pada seorang perempuan yg membuatku betah. Lagi pula, ada benarnya, karena kita basah kuyup di perjalanan. Sangat aneh bila kita mampir d mushola dan sembahyang.
"Aku ingin shalat d kostan"
Itu permintaanmu.
"Gak mau berteduh, nanti lama"
Itu keinginanmu.
Semua ku kabulkan. Bukan karena aku Tuhan. Melainkan. Kau hanya punya aku d perjalanan itu. Dan aku tak pernah tega untuk membantah, pada seorang perempuan yg membuatku betah. Lagi pula, ada benarnya, karena kita basah kuyup di perjalanan. Sangat aneh bila kita mampir d mushola dan sembahyang.
Kemudian sampailah d tempat berteduh, yg kau bayar kamar itu setiap tahunnya. Kepunyaan org tapi kaulah pemilik sementaranya.
Dinginnya membuat kulit ku keriput. Seperti nenek-kakek2.
Dingin, menembus kulit, daging hingga tulang dan sampai pada sum-sum yg tak mudah d jamah.
Dingin, menembus kulit, daging hingga tulang dan sampai pada sum-sum yg tak mudah d jamah.
Kulihat kau pun gtu. Menggigil, mata sayup. Dan tanganmu tetap kau tempatkan seolah memeluk tubuhmu sendiri.
Aku bisa saja dgn kurang ajar merangkulmu dari belakang, tanpa tanya terlebih dahulu, atau secara perlahan dan berbagai macam rayuan, menawarkan diri untuk menghangatkan tubuhmu. Lalu bersetubuhlah kita.
Setidaknya itu lah bisikan kurang ajar dari nafsu yg ingin menguasai ku dgn alasan romantisme anak zaman sekrang.
Setidaknya itu lah bisikan kurang ajar dari nafsu yg ingin menguasai ku dgn alasan romantisme anak zaman sekrang.
Bahkan, bisa saja aku meniru kebiasaan yg tanpa permisi, menyambar tanganku sehingga jari kita saling mengisi.
Tidak! Tak satupun keluar dari bibirku. Itu hanya debat hebat, yg sesaat dan bisa bikin sesat.
"Aku ingin teh manis panas"
Itu permintaanku.
"Kayaknya kita minum bareng aja"
Itu keinginanku.
Itu permintaanku.
"Kayaknya kita minum bareng aja"
Itu keinginanku.
Iya. Bukan hanya itu. Aku mengajakmu untuk memesan Indomie. Ada orang aneh menyanyikan "disaat cinta bersemi, cacing oge rasa na Sarimi".