Kemudian orang-orang bertanya.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Apakah kalian saling memantankan?"
"Apa yang terjadi dengan kalian? Apakah kalian saling memantankan?"
Kemudian aku diam.
Dan mereka seolah-olah menunggu bibirku berucap. Padahal aku tak berniat untuk menjawab. Seorang diantara mereka bersemangat untuk mendesak agar aku mulai bicara seperti yg mereka kehendak. Kemudian. . . .
Dan mereka seolah-olah menunggu bibirku berucap. Padahal aku tak berniat untuk menjawab. Seorang diantara mereka bersemangat untuk mendesak agar aku mulai bicara seperti yg mereka kehendak. Kemudian. . . .
Aku: "Begini. Dulu. Kaki kami pernah menginjak pasir yang sama. Sesekali ada ombak yang mampir di telapak. Kemudian. Sebelah kiri kami adalah orang-orang yg sedang memaksa ingin mengabadikan poto kami. Dengan menyuruh berdiri saling berhadapan. Mata kami berjarak dua jengkal orang dewasa. Samping kanan kami ada pantai yg mulai ditinggalkan orang. Di belakangku ada matahari yg perlahan tenggelam. Dalam keadaan itu, saat sunset itu. Poto berhasil mengabadikan. Saat aku melihat poto itu. Aku berkata "setidaknya, mata kita pernah saling menatap, meski hati tak jadi menetap".
Namun perkataan antara mata dan hati itu tak pernah ku bicarakan sekalipun. Hingga akhirnya aku ingin menuliskannya. Di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar