Pernah aku melihat Epul dalam
suatu keadaan yang jika aku menjadi dia, aku malas menjalaninya. Begini ceritanya.
Waktu itu adalah saat dimana dia berada pada situasi yang menegaskan bahwa dia
sedang mengalami kegagalan. Jadi, pas hari itu banyak orang yang bicara
tentangnya, mendadak semua orang mengetahui ceritanya, mendadak semua seolah
sudah akrab dengannya. Mendadak semua orang merendahkan, mencibir, mengumpat,
hingga melaknat. Ya. Yang aku tau dia tidak berhasil dalam menyelesaikan sesuatu.
Kurang lebih ini percakapan
mereka;
Fulan: Kenapa kamu berhenti?
Fulanah: Kenapa tidak melanjutkan?
Fulansky: Mana omonganmu waktu dulu?
Fulanov: Segini saja bisa mu?
Fulanova: Segitu aja udah menyerah?
Fulanoy: Dasar lemah! Dasar payah!
Fulanic: Penakut!
Fulanudin: Pecundang!
Setelah itu. Ku lirik
mukanya. Lah. Kenapa dia tersenyum? Dan akhirnya orang-orang yang menghakiminya
pun pergi bergiliran. Persis ketika mereka mencacimaki. Ku tanya saja dia yang
masih tersenyum tak ada manisnya itu.
Aing: Kenapa maneh malah senyum?
Epul: Hahahhaa
Ketawa jawabnya.
Aing: Kenapa sekarang tertawa?
Epul: Hahaha iya. Harusnya urang tersenyum di media pencitraan. Bukan disini.
Aing: Hahahhaa.
Kemudian
aku tertawa.dan mengajak dia maen winning eleven.
Ku pikir bener juga dia. Tertawa diatas penderitaan orang lain itu dilarang. Maka tertawalah diatas penderitaanmu
sendiri. Eweuh gawe sih. Tapi anjir, hade lah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar