Senja hari Senin
Kau datang dan menjadi sosok yang ngangenin. Tiba-tiba jumpa mendekatkan diri. Membuat macam lelucon buatku berseri-seri. Kupikir ini takdir Ilahi. Dalam khayalku; akhirnya sebentar lagi aku tak sendiri.
Senja hari Selasa
Hatiku ranum disebabkan rasa. Apa ini? Bukankah baru kemaren kita kembali bicara. Mengekspresikan 'kamu' lewat berbagai aksara. Mengirim 'selamat pagi', yang kau balas dengan tanya; 'kamu sedang apa?'
Senja hari Rabu
Cinta semakin menggebu-gebu. Debur ombak tak sebising debar jantungku, saat kau isi celah jemariku. Genggamanmu semakin keras, seolah kau tak ingin dilepas. Dan senja, tak sejingga senyummu.
Senja hari Kamis
Kau bilang aku seorang humoris. Mampu menenangkan setiap tangis. Aku senang terlahir didunia dan senang telah menyenangkanmu. Semua hal kita tertawakan, mungkin terlihat sia-sia, yang penting kita sepakat bahagia.
Senja hari Jum'at
Tersiar kabar yang membuatku skakmat. Mereka berkata; kau baru putus dengannya kemaren lusa. Terhianati oleh pria yang mengobral cinta. Aku; mencoba tidak peduli, yang harus ku lakukan adalah datang untuk verifikasi.
Senja hari Sabtu
Jiwa-ragaku telah bersatu. Kini kutekadkan datang kerumahmu. Yang kuharap sambutan diruang tamu. Namun kau tak ada, beserta kabar yang mulai menghilang. Kecewa memang, namun tetap bersabar.
Senja hari Minggu
Kuputuskan untuk menunggu. Ditempat sama kita sering bertemu. Bersabar dengan segala resiko terburuk seperti hati yang pernah terpuruk. Sungguh menyakitkan meski hanya sekedar lamunan.
Ah. Akhrinya kau datang. Namun aku salah mengira. Kupikir kau tersadar, nyatanya akulah yang tertampar, oleh kata-kata perpisahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar