Tweets by Sukandi_Suk ">

Rabu, 27 Januari 2016

Truk Sapi Punk Merokok

Pulang. Yah ke kampung halaman, halaman yang paling depan dan belakang. Aku lahir dan semoga mati disana. Dikampung halaman yg sama. Bagaimana mungkin, ah mungkin saja, bagaimana pun caranya.

Yah begitulah, aku pulang karena aku merantau. Cuma beda kota sih, tapi bagi urang Sunda, segitu juga udah merantau. Jangan bandingkan dengan suku yang lain, jelas kami tak ada apa-apanya dalam hal merantau. Apalagi pelancong dari negara lain. Ah, tak tau lah mereka ingin apa? Gak tau juga kenapa urang Sunda kalau main gak jauh-jauh. Namun bagiku, buat apa aku jauh-jauh kalau alam Priangan sudah menyediakan semuanya, mencari apa aku? Makanya, kebanyakan dari kami cuma putar-puter di tanah Pasundan.

Bandung - Ciamis lumayan lah. Sekitar tiga jam, bukan tiga zaman yah. Itu kalau naik kendaraan pribadi dengan agak nyantai dan tanpa macet. Biasanya sih begitu. Kalau gak begitu berarti gak biasanya.

Aku menunggangi Bleki-bau, dia itu motorku. Gak cukup keren sih, cepat juga enggak. Yang penting nyaman buatku berkendara. Keren itu kalau dibandingkan dengan motor mahal atau hasil modifan orang lain. Gak cepat itu kalau dibandingkan dengan motor yang diatas 110cc. Kan sudah kubilang, yang penting nyaman kan.

Aku melihat ada truk - sapi - anak punk. Iyah, mereka, anak punk itu ikut naek truk yang sedang mengangkut sapi. Ntah mau kemana. Ah, ku salip saja, karena berkendara dibelakang truk itu tidak nyaman, walaupun kendaraanku nyaman. Asapnya terutama. Hitam dan bau. Tapi setelah kusalip, kupikir ada yang kurang. Ah, Rokok! Masa anak punk gak ngerokok sih? Orang mereka ngamen juga suka nerima uang batangan.

Aku berhenti karena ingin ngasih mereka rokok. Dan aku ingat, didalam tas yang ku gendong ini ada rokok yang tak jadi aku kasih ke seseorang. Satpam waktu itu. Aku keluarkan sebungkus rokok, dan menunggu sampai truk punk itu melewati blacky-bau ku. Yaps sudah lewat. Aku nyalakan motor dan berusaha mendekati.

Bagaimana caranya kasih kode yah? Klakson tentunya. "tttiiiiiiddd" ah dia tak menoleh. Mungkin mereka kurang peka. "tid tid tid tiiiiiiiiddddd" YES akhirnya salah satu menoleh. Ku lambaikan tangan dengan memegang bungkus rokok. Dia langsung peka bahwa aku akan mengasih mereka rokok. Ku dekati hingga sejajar. Dan tangan kiriku acungkan. Hap! dia meraih rokoknya. Aku lihat dia yang senang. Huft. hampir saja. Aku oleng tau.

"Nuhun kang"
itu kata dia. Se-punk-punk nya anak punk Sunda, dia akan bilang "nuhun" juga. Ya begitu lah urang Sunda. Mereka jarang merantau, dan sering dirantau. Tapi sebagai tuan rumah yang baik mereka sangat sopan. Bahkan premannya sekalipun ramah. Coba saja kau lewat sambil bilang "punten", dia akan menawarkan "mangga" kok. Trust me, it works! Mungkin kau bisa nonton preman pensiun sebagai gambarannya.

Sundari, terkadang aku ingin merokok. Bagiku rokok bukan hanya barang komersil. Sudah menjadi kebiasaan, budaya barangkali dimasyarakat kita. Dengan merokok aku ingin mempermudah pedekateku terhadap masyarakat nantinya. Tidak canggung untuk memulai, tidak pusing untuk memberi. Rokok. Kukira mereka akan dengan cepat, lebih ramah menyambutku.

Yah kemungkinan yang mendekati pasti, kau akan melarangku. Karena aku tahu, kau sudah tahu, bahwa aku punya kelemahan disaluran napasku. Terima Kasih kalau kau ingin aku sehat. Terima Kasih sekali.

Hujan

Ya begitulah hujan selalu sama dari dulu hingga sekarang. Air. Kata orang, hujan itu 1% air dan 99% kenangan, hujannya diluar pipi-pipinya yang basah. Begitulah kata pujangga, si Wira dari Banjarnagara. Kata orang lain dari negeri sebrang, hujan adalah cara Tuhan untuk memeluk diri-Nya. Tak apa, bahkan kau bebas mendefinisikan hujan. Yang penting kita sepaham bahwa air yang turun dari langit itu kita namakan hujan.

Hujan.... hujan..... aku tak mengerti mengapa banyak orang yang membencimu sedangkan yang lainnya merindukanmu. Hujan jika aku jadi kamu, mungkin aku sudah membatin tak mau hidup. Kapok. Bagaimana mungkin manusia sekejam itu. Maksudku. Jika kelebihan mereka memakimu, jika kekurangan mereka memintamu, jika pas mereka malah melupakanmu.

Tapi jangan khawatir, manusia hanya belum akrab dengan temanku. Temanku yang ketika penghujan bisa mengebumikan air langit dan jika kemarau air itu akan membasahi bumi dari dalam. Namanya si Biopori. Temanku itu memang ahli dalam menangani mu wahai hujan.

Sundari
Begitu lah cara aku berbicara dengan hujan. Hujan yang aku syukuri karena menetralkan udara, yang aku syukuri karena menyuburkan tanah, dan hujan yang menghidupi kehidupan. Aku sangat risau tak kala kemarau. Dan aku takut tak kala hujan lepas kontrol.

Sundari oh Sundari.
Keluarlah, mumpung hujan. Memang enak berselimut dan minumann hangat ditanganmu. Tapi aku ingin kau keluar. Tanpa payung, jas hujan dan pelindung lainnya. Basahi tubuhmu dengan air hujan. Biar apa? Agar ada alasan aku bertemu denganmu dalam bingkai menjenguk. Aku rindu.

Kamis, 21 Januari 2016

Spion

Bandung malam hampir sama dengan kota lainya, gelap apalagi kalau mati listrik. Bandung ibukota Priangan, dingin bikin merinding. Saat itu, dijalan Soekarno-Hatta, kendaraan tak seramai jam masuk dan pulang orang kantor dan pelajar. Tidak ramai dan tak terlalu lenggang. Ya lumayan lah, seakan jalan agak lebaran daripada pagi dan sore hari.

Aku habis kumpul dengan teman-temanku, berhubung bulan puasa kami batal bersama di salah satu tempat makan ala Sunda. Menunya tidak asing bagiku, tapi bukan, bukan karena aku sering ketempat itu. Ya karena aku cuma mahasiswa yg berasal dari salahsatu Kabupaten di Jawa Barat. Makan ala Sunda itu memang santapanku hampir setiap hari. Tapi aku setuju kalau kami berkumpul disana.

Tak mau aku batal berkumpul dengan teman gara-gara masalah tempat, sudah cukup repot kami menyesuaikan waktu yang cocok. Mungkin kalian ngerti, kata orang sih pertemanan "ada masa nya". Serius, aku tak mau setuju dengan perkataan itu.

Ah, lagi pula masakan khas Sunda mungkin agak asing bagi beberapa temanku yang bukan dari etnis Sunda. Mereka ingin mencoba, mudah-mudahan mereka suka. Aamiin. Aku juga menikmati lesehannya, bagiku, lesehan lebih nikmat untuk acara kumpul-kumpul santai.

Dijalan bypass itu, aku membonceng dia, dia yang suka bicara entah apa saja. Tak terlalu penting tapi aku suka. Atau, aku suka bukan karena topik bicara, suara dia mungkin telingaku menyukainya. Ya, ku kira itu benar, ku kira itu pantas menjadi alasan, tapi alasan pribadiku saja, tak usah orang tau. Walau sebenarnya mereka akan tahu. Sekarang tepatnya.

Dari boncengan itu, aku baru tahu. Kalau dia itu suka muter-muterin spion motor.
Suk : Heh! Mau ngapain? Ngaca?
Aku nanya karena dia mulai ngotak-ngatik spion kiriku. Tapi pas aku tanya dia gak langsung jawab.
Aku sadar, spion itu malah dia tempatkan sedemikian rupa sehingga wajah kami bisa saling terlihat.
Sun : Mau lihat kamu nyetir.
Aku kaget tapi sambil tersenyum. Maksudku dia yang senyum. Tapi, tentu aku balas.
          Kamu serius yah kalau nyetir.
Suk : Iya lah. Aku serius kalau nyetir.
Sun : Kenapa?
Suk : Ya, karena aku bawa orang, anak orang. Bukan karung beras.
hahahhaa. Kami ketawa bareng. Ya walaupun tak begitu lucu.
sebenernya aku agak salting sih dilihatin gitu, bukan karena dilihatin, tapi lebih karena siapa yang sedang lihatin aku pake spion kiriku.
Sun : Tuh kan serius.
hahahaa. Selalu ada ketawa atau senyum walaupun tidak ada yang lucu.
Suk : Aku kasih tau yah. Selain nyetir, aku juga serius kalau lagi maen game.
Sun : Aku gak tau.
Suk : Barusan banget dikasih tau. Gimana sih.
Sun : Oh ia yah. hahahaa
Dia ketawa lagi. Dan aku temenin. Gak tau biar apa.
Sun : Jangan di apa-apain.
Maksud dia spionnya.
Suk : Kenapa?
Sun : Mau lihat kamu nyetir.

Aku senyum. Tak tau untuk apa, jika kalian mau bantu cari alasannya. Terima kasih banget.

"Spion kiri itu biarlah menjadi milikmu, untuk kebahagian kita, tapi spion kanan ini milikku, untuk keselamatan kita. Dari spion milikmu itu aku bisa lihat kamu memperhatikan, aku akan tau kau senyum dan meledek, kau juga akan tau apa yang wajah aku kerjakan. Dan spion kanan, ini agar aku bisa lihat barangkali ada pengendara yang membahayakan, agar kita selamat, aku tetap harus waspada."
Tapi itu semua tak aku bicarakan. Kukira dia mengerti hal itu. Karena dia Sundari. Sundari ku.

Jumat, 15 Januari 2016

Untuk apa?

Ah bingung sendiri untuk apa blog ini. Tak jelas tujuannya.
tapi ya sudahlah, sesuai namanya aja.
ini punyaku dan Sundari.
terserah kami mungkin.

Selasa, 12 Januari 2016

Sahabat Itu (tak) Ada

Pernah denger “ini sahabat kelas aku” atau “mereka sahabat SD/ SMP/ SMA aku”. Atau sahabat orang menceritakan keburukan sahabatnya?Jangan pernah bilang seseorang itu sahabat kamu, dan jangan mau dibilang sahabat oleh orang lain. Kecuali salah satu dari kalian sudah mati. Maka pantaslah terdengar “dia sahabat aku”. Tanpa melebihkan atau mengurangi kata-kata itu. *pakainlah kata sejak/ semenjak.

Friend = teman, bestfriend = teman terbaik. Darimanakah sahabat berasal? Dari kebulsh*tan orang-orang. Aku hanya percaya, “Rasulullah yang punya sahabat”. Nyatanya mencari sahabat lebih susah daripada mencari pacar. *baca penjelasan sahabat menurut Islam, hanya 1 yang hakiki.

Sebuah tingkatan dari gampang akrab tapi tidak mudah berteman. Berteman banyak tapi belum punya sahabat.

Barangkali karena dia sedikit kenalan, makanya dia punya teman. Barangkali karena dia sedikit teman, makannya dia punya sahabat. *pedagang yg cuma lulus SD, berdagang sendiri, telponan dengan pria

Tak ada manatan sahabat, tak ada sahabat SD, SMP, SMA, tak ada sahabat terbaik, karena sahabat memang tak pantas ada. *sahabat terbaik = ada sahabat yg tidak baik.
Sahabat itu (tidak) ada.


Gelar sahabat sama kayak gelar pahlawan, harus nunggu dulu mati, baru bisa menyematkan gelar. Karena kita tidak tahu kapan jasa-jasa yang berharga itu mati karena suatu tindakan bodoh.

Titip Pertiwi

Kamu tau apa hal terindah dari senja? Bukan lembayung yg sering orang sebut dengan sunset (yg mereka upload berpasangan). Tapi, itulah saat terkahir aku melihat manisnya senyummu, sebelum malam menggelapkan mata. *selamat malam Sundari

Hubungan matahari dengan bumi: matahari selalu memberikan sinarnya kepada sang kekasih (bumi). Bahkan saat malam, dia menitipkan pada bulan. Romantis!

Dan matahari masih setia menunggu kekasihnya yang bermain dalam dunia gelap.

Dalam malamku, aku titipkan rindu pada gelap yang menyelimuti bumi. Jika mentai datang, rinduku tak hilang. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Jika rinduku ini sebuah malam yang gelap, kau jangan mengutuknya. Tidurlah. Lewati dengan ketenangan.

Malam yang nihil untuk semangat siang yang tenggelam bersama petang. Semoga pagi menghadirkanmu kembali.

Malam ini lebih berwarna, walau sejatinya malam itu gelap. Tentu ada alasannya.

Oh malam, kenapa kau gelap? Bukankah karenamu banyak orang yang mendapatkan pencerahan?

Gravitasi bumi membuat semua benda jatuh. Termasuk hati manusia yang jatuh cinta terhadap keindahannya. Semoga tdk terlena ke dasar kesengsaraan.

Ia, jika kau memang bintang, maka aku tak dapat memilikimu. Tapi aku masih bisa menikmatimu dari kejauhan.

Jangan pernah bermimpi menghilangkan kegelapan, karena semakin terang cahaya maka semakin pekat bayangannya.

Berhenti berfikir kemungkinan hidup di tempat lain. Jika bumi tak kau hancurkan tentu lebih indah di sini! Bumi adalah sepetak tanah surga yang sengaja Tuhan perlihatkan untuk manusia, agar mereka termotivasi kembali. Bukan terlena!

Rahasiakan rahasiaku, karena aku merahasiakan rahasiamu. Biarkan rahasia tetap jadi rahasia. Tutupilah seperti malam yang selalu berhasil menyembunyikan mentari setiap harinya.

Terlalu banyak cahaya itu tidak baik. Dapat menyilaukanmu, kemudian matamu terpejam karenanya. Akhirnya nemu yang gelap juga kan?

Sunrise dan sunset itu tak benar-benar ada. Itu hanya istilah penduduk bumi. Matahari itu pusatnya, dia tidak kemana-mana (diam). Sama sepertiku. Kau saja yang terkadang melirik dan berpaling.

Hujan. Jangan ragu-ragu untuk turun, sekarang manusia membutuhkanmu. Apa manusia kuat tanpamu?

Jika penghujan, mereka bisa mengebumikan air langit itu. Jika kemarau air itu akan membasahimu dari dalam. Oh, biopori.

Jika kelebihan, mereka memakimu. Jika kekurangan, mereka memintamu. Jika pas, mereka melupakanmu. Ah manusia. *hujan

Yang kita harapakan dari tanaman adalah asri. Bukan gersang ataupun hieum.

Air menjadi simbol ketenangan, beda lagi dengan air mata yang jadi simbol kepedihan. Tapi berbeda dengan air mata bahagia. Emang ada? Semacam ketenangan yang pedih? Atau kepediahan yang menenangkan? Kau harus tenang, walau sedang merasa kepedihan.


Aku menyukainya dengan diam-diam, seperti matahari yang mengambil air dari tiap penjuru bumi. Aku merindukannya dengan amat sangat, seperti hujan deras yang jatuh, namun tak kesakitan. Dan aku berharap dia datang seperti pelangi sesudah air membasahi pipi.

Mencinta Dalam Dusta

Dia itu memang baik ke siapapun, karena pada dasarnya dia orang baik. Bukankah karena dia baik kau menyukainya? Jangan ke-GR-an! Dia hanya membalas kebaikanmu. Karena dia tau, si Budi perlu dibalas, si Dendam mah jangan.

Harus ada 1`orang untuk setiap orang, tempat berbagi, bersender, marah, hingga menyerah. Semua kondisi akan kembali baik karena orang itu.

Diam-diam aku menyukaimu juga, diam-diam aku memperhatikanmu, diam-diam aku merindukanmu, dan terkadang aku terdiam karena cemburu. Bahkan saat kau diam-diam mulai menghilang. Aku diam-diam tersenyum melihatmu bahagia dengan orang yang terang-terangan mengingingkanmu.

Hubungan kita semakin intim. Aku senang malam ini bersenang-senang bersamamu. Kita kembali bercerita panjang tanpa bosan. Dari awal perjumpaan hingga seperti sekarang. Bagaimana perasaanmu dan perasaanku? Sambil berpaling muka, kita saling tersenyum masing-masing.

Mendengar orang lain cerita PDKT-nya itu menyenangkan, seru. Sama kalau kita menjalaninya. Kalau PDKT aja banyak mengeluh merasa dirugikan. Mungkin dia mencari status, bukan kebahagiaan. Mungkin dia ingin dibahagiakan bukan membahagiakan.

Kamu tahu apa itu rindu? Keinginan untuk bertemu, menghabiskan waktu, atau apapun itu menurutmu. Bahkan rinduku pun hanya bertepuk sebelah tangan. Tak apa itu urusanku. Tak apa jika kau bertemu dengan yang kau rindu. Aku mah menunggu sambil merindu.

Oh Sundari, apakah sapaanku via doa telah sampai? Atau memang sengaja kau abaikan?

Seharusnya aku tak pernah merasa kehilanganmu, karena aku tak pernah benar-benar memilikimu.

Sebenarnya yang dicari dan diharapkan orang bukanlah “aku suka kamu atau kamu suka aku”. Tetapi kata “saling”-lah yang harusnya orang-orang harapkan. Karena kata “saling”-lah yang membuat kedua belah pihak bahagia, bukan aku ke kamu, dan giliran kamu ke aku (giliran). Bahkan perselingkuhan tidaklah menyakitkan bila suatu pasangan saling selingkuh.

Akan ada putus yang baik-baik saja. Putus yang ideal. Aku akan menemukannya. Jika tidak, pasti seseorang akan menemukannya. Jika tidak, Tuhan akan menjelaskannya via aku, kamu, atau orang lain, kesiapapun yang Tuhan mau. Via mimpi, khayalan, pikiran, atau via apapun yang Tuhan mau. Ada, akan ada, dan harus ada.

Untuk orang sepertiku, yang tak berbidang, berharta, dan tak membuat bangga. Apalagi aku yang bercita-cita ingin bermain. Tak ada perempuan yang sudi aku ajak.

Aku bukan menolak perubahan. Tapi rasanya sangat asing, terombang-ambing. Jika kau mau menjauh bilang saja. Jangan repot-repot, aku yang akan berjalan mundur.

Ah, hanya mimpi. Kemesraan menghilang ketika aku bangun karena girang.

Inilah caraku, aku gamer. Jika ada perempuan, aku ingin ajak dia bermain, jika dia tidak bisa main, bagaimana mungkin dia mampu serius? Main itu bersenang-senang. Aku gamer yang serius.

Boleh aku merindukanmu? Hari ini saja. Jika boleh, makasih. Besok aku akan menanyakan hal yang sama. Jika tidak, tak apa-apa. Aku akan menolak jawabanmu.

Dan jatuh cinta membuat orang beranggapan sesuatu itu miliknya tapi nyatanya bukan. Ingin memastikan sesuatu tapi tak punya keberanian. Dan aku bukan.

Kau tau? Ini ke-3 kalinya. Aku hanya membisu, tak menceritakan bermimpi denganmu. Kau tau? Ini rindu. Selalu.

Aku lihatin kamu, ko kamu senyum-senyum terus ke aku? Ah, ternyata yang kupandang itu Cuma poto kamu yang tersenyum. Aku curi dari profilmu.

Aku tak mau kamu, ish, memangnya kau segalannya? Rindu? Tidak! Cemburu? Apalagi -_-. Kau tau? Aku bohong.

Kicauan burung memang lebih merdu, tapi bukan itu yang ingin aku dengar. Kau memaki pun tak apa, itu pertanda kau masih ada di bumi.

Jika bumi ini runtuh, aku akan meninggalkanmu. Tapi itu jika, gak jadi deh ninggalinnya.

Selama kau bersenang-senang dengan orang yang terduga jodohmu. Aku nyiapin banyak hal nantinya untukmu.

Jika Tuhan tidak menghendaki, aku bisa apa? Jika Tuhan tidak menghendaki, kamu bisa apa? Jika Tuhan tidak menghendaki, dia bisa apa?

Ini rindu. Bukan paksaan untuk bertemu. Hanya harapan perasaan yang sama dari hatimu.

Keduanya berat, tapi tidak dapat diukur. Ini tentang ngantuk dan rindu. Kau tau obatnya? Tidur, kantukmu hilang, rindumu terobati dengan mimpi.

Ah, siapa yang bertanggung jawab atas jebolnya bendungan gengsiku ini. Kangen kah? Rindu kan? Senyummu meluluhlantahkannya.

Aku tidur saja, barangkali kau sudah siap bermain dialam (mimpi) sana.

Bahkan perselingkuhan tidaklah menyakitkan. Jika keduanya “saling” selingkuh.

Dan apalah arti rinduku, cemburuku, bila itu hanaya mengikis kebahagiaanmu. Cukup aku yang merasakan kekurang nyamanan ini, jangan terlalu banyak yg merasakan, cukup seorang. Aku saja.

Kita semua memulai perjalanan dari titik 0 KM. Entah perjalanan kita mulus atau berliku. Jika kita harus terhenti sejenak ditengah jalan, bahkan bila kesusahan. Kita tidak boleh berhenti. Lanjutkanlah hidup! Ingat. Orang tua menunggu kabar kita sampai tujuan. Teman perjalanan boleh berganti. Berbaik hatilah karena mereka sampat menemani. Tapi, Tuhan hanya memilih seseorang untuk teman hidupmu. Percayalah.

I’m fun if you fine. I’m fine if you fun.

Banyak jerawat nih. Mitosnya sih itu tanda kangen. Bohong! Jangan percaya! Kalau itu benar, maka tak setitik pun wajah ini melainkan tertutupi semua oleh jerawat. Rinduku tak punya alat ukur. Maka rinduku yang manakah yang engkau dustakan?

Aku suka permainan ini, kehidupan ini. Apabila kau mendapatiku terdiam, bukan berarti aku tidak menikmati. Aku akan tersenyum bahkan tertawa walau aku sedang kepayahan. Cepat atau lambat, aku harus belajar rela dan ikhlas atas kehendak-Nya.

Iya. Kita memang tidak bisa menyalahkan perasaan, apalagi Sang Pemberi Perasaan. Salahkan kamu yang menyikapinya saja.

Kalian nanya ada apa dengan kami? Hhhhhmmmmm aku bukan siapa-siapanya dia, dan dia? Bukan siapa-siapanya aku.

Mata ini lelah, memelas untuk istirahat. Tapi, telinga ini masih kuat untuk menunggu ucapan tidur darimu.

Tak ada yang lebih sepi dibandingkan aku ngocoblak dan kamunya jempe.

Dan sesuatu yg tidak berbentuk namun mempunyai berat adalah ngantuk dan rindu. Aku mau tidur untuk kantuku dan obat rindu ala mimpi.

Buku apa yang kamu baca? Aku suka pemikiranmu! Pengalaman apa yang kau dapat? Aku suka sikapmu! Aku suka cara kamu memandang dunia, aku suka cara kamu menyikapi kehidupan. Oh, aku suka kamu!

Aku pernah merasakan diperhatikan dan memperhatikan, saling menyapa, saling merindu, saling menyukai, bahkan saling cemburu. Seolah-olah kami seperti sepasang kekasih. Tapi sekarang aku tak tau apa yang terjadi. Hanya merasa kehilangan.

Kenapa kau ditutupi selimut? Apakah kau kedinginan? Oh tentu tidak. Mungkin kau tak ingin melihatku. Kalau begitu aku titip salam, “ selamat pagi”. Tolong sampaikan ke seseorang yang menutupi dirinya dibalik selimut.

Dan apalah arti rinduku, cemburuku bila itu hanya mengikis kebahagianmu. Cukup aku yang merasakan kekurang-nyamanan ini. Cukup seorang. Aku saja.

Melihatmu sedih membuatku sedih juga. Kau adalah bukti ketidak-becusanku membahagiakan seseorang.

Laki-laki itu berjuang diawal. Perempuan itu berjuang ditengah. Karena akhir adalah milik Tuhan. Jika kamu mampu, berjuanglah! Tapi jangan banyak ngeluh. Jika tdk mau berjuang, pergilah! Tak ada jaminan seseorang itu adalah jodohmu. Jangan memandang rendah seseorang karena 1 sudut pandang saja.

Hanya karena perubahan kamu menyalahkan orang lain? Hanya karena lelaki berjuang diawal, perempuan menyalahkannya? Lelaki pernah berjuang, perempuan punya giliran di tengah. Diakhir adalah urusan Tuhan. Jika tak mau berjuang, tinggalkan saja. Tapi ingat! Jangan salahkan.


Inilah aku dan permainanku, akan aku beritahu tutorial game dsb hingga kau menjadi jelas. Jika kau mau ikutan, aku akan set – new game – multiplayer. Nanti kau akan mendapati checkpoint dari apa yang telah kita jalani, kita bisa save dan load game sesuka kita. Tergantung kita, apakah kita termasuk pasangan player yang akan game over/ menyelesaikan ini. Permainan (kebahagiaan) itu aku sebut “hubungan”.

Minggu, 10 Januari 2016

Aku Hanya Makhluk-Mu

Menghina Tuhan itu mudah. Kau khawatir akan jodoh aja. Jodohmu siapa, seperti apa, dan kapan datang. Kau sudah menghina Tuhan. Jangan Khawatirkan jodoh.

Aku punya rencana untukku pribadi dan untuk kita. Kau punya rencana untukmu pribadi dan untuk kalian. Aku tidak akan memaksakan rencanamu harus sama denganku, itu akan membuatmu tidak bahagia. Aku hanya berharap, rencanaku sama dengan rencananya Tuhan. Dan Tuhan akan membuatmu bahagia via aku. Sundari maafkanlah harapanku ini.

Inilah 2 akibat dari 1 sebab. Yaitu mereka yg tidak taraweh ke mesjid karena ngantuk dan boker. Kedua-duanya disebabkan makan terlalu banyak. Bukankah berhenti sebelum kenyang? Bukankah solusi takut mubazir adalah dengan berbagi?

Ketika adzan Tuhan hendak mengusir kita dari rumah, dan mempersilahkan kita berkunjung kerumahnya.

Kita semua sama dimata Tuhan. Jadi jangan diperdebatkan, jangan diseragamkan.

Semua sama dimata Tuhan, kecuali satu hal. Semua sama dimata saya, kecuali beberapa hal.

Rindu otomatis akan membuatmu mengucapkan namanya, selalu. Jika kau tak berdzikir, jangan berkata kau mencintai Tuhan. Dasar pembohong!

Okeh. Kita buat perencanaan. Masalah sukses sama gagal mah, gimana nanti. “perjuangan dan doa” dulu ceuk pak haji Rhoma Irama mah.

Kita manusia Maha Bodoh, Maha Labil, Maha Linglung. Katanya ingin orang baik, tapi kelakuan buruk. Tau ayat-ayat Al-Qur’an (An-Nuur:26), tapi tidak mengimaninya. Orang baik itu membosankan yah? Karena kita sering mengabaikan orang baik untuk orang yang terlihat baik. Sampai ada istilah “kamu terlalu baik buat aku”. Kita inginnya apa? Ingat! Kita manusia Maha Buruk!

Ini tentang orang yang percaya Tuhan tapi merendahkan Tuhan. Dia tahu, hafal An-Nur: 26 tapi tidak memperbaiki diri. Dia berdoa jodoh yang baik, tapi pacaran diluar nikah. Dia percaya Allah Maha Adil, tapi lupa dia menyakiti lebih dari satu orang. Kamu khawatir mengenai jodoh, maka kamu sudah menghina Tuhan.

o   Kenapa kau memakai kata “Tuhan”? apa agamamu?
§  Aku pakai “Tuhan”, “Hyang”, “Pangeran” dll dsb dst dkk tak masalah. Bukankah sudah jelas “Tiada Tuhan Selain Allah”. Setidaknya aku percaya itu.
o   O atuh.
§  Bahkan “O” darimu membuatku kagum. Artinya kau sudah mengetahui jawabannya. Kau hanya tidak mau aku tersesat.

o   Harus setiap saat. Allah aja setiap saat baik sama hamba-Nya.

§  Ih gak bisa! Kalau aku setiap saat baiknya, ntar ada yg ijin mau nyembah aku gimana? Kan ahad!

Kamis, 07 Januari 2016

Baca (saja)

Bismillah.
Semoga lancar membahagiakan. Semoga. "Aamiin", kataku, berharap kalian juga gtu.

Jadi, blog ini apa? Blog ya blog aja. Maksudnya, ini untuk apa aku bikin? Seriusan, aku bingung, ternyata galau bisa dari hal sepele yang diciptakan dari kelakuan diri sendiri.
Tadinya mau aku buat untuk "kisah" ku dengan Sundari (sekarang kata-katanya kisah aja dulu, aku bingung kata apa yang tepat untuk semua ini). (memang kulakukan)

Sundari yang aku tulis dalam berbagai medsos yang akunnya aku punya. Yang membuat orang bertanya, penasaran siapakah dia? Jangan gitu, ntar aku bingung lagi. Karna hal itu juga yang membuatku bertanya pada diri sendiri. 

Beberapa teman menyukainya seperti aku menyukainya, beberapa lagi memilih diam. Diam itu ntah suka tapi gengsi atau jangan-jangan ingin mencaci. Ah tak begitu penting bukan, aku aja masa bodo dengan trus membuat Sundari yang "nyampah" di TL atau beranda mereka, pagi-siang-malam hari. dan waktu diantaranya.

Kadang aku merasa gimana yah, tentang pendapat mereka. Terutama yang tidak mengenakan hati. Tapi jika tujuanku menulis Sundari adalah untuk disukai seluruh manusia dibumi ini. Maka cita-citaku seperti itu adalah harapan yang bodoh berkali lipat. Yang sekarang aku pikirkan adalah lakukan apa yang aku sukai saja, orang lain mah gimana nanti we.

Tapi selalu ada harapan baik besar maupun kecil, semoga kami (aku dan Sundari) ada manfaatnya dalam bentuk apapun, dimanfaatin juga tak apa kali.

Semoga Sundari baik adanya, untukku, untukmu, untuk kalian seluruh sekalian alam.



Ttd



Robi Syarif Sukandi

Salawe

Rasanya cukup aneh, 25 tahun menempati raga tanpa pernah benar-benar tau ini siapa. Aneh juga rasanya, memakai otak tanpa pernah terpikir i...